Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2016

Sejarah Dan Perkembangan Teori Manajemen

Sejarah Dan Perkembangan Teori Manajemen
Sesungguhnya manajemen sudah ada sejak jaman dahulu, salah satu bukti adalah Piramida di Mesir. Adanya bangunan Piramida di Mesir menunjukkan bahwa pada zaman dulu telah ada serangkaian kegiatan yang diatur sedemikian rupa, mengikuti tahapan-tahapan tertentu yang telah disiapkan hingga bangunan Piramida yang megah di tengah gurun pasir dapat menjadi decak kagum masyarakat dis seluruh dunia dari dulu hingga kini. Dari sejarah dapat kita ketahui bahwa tidak kurang dari ribuan orang telah terlibat dalam pembangunan Piramida di Mesir.

Selain Piramida di Mesir, ada juga benteng raksasa yang berdiri sepanjang ribuan kilometer di Cina. Benteng ini juga menunjukkan betapa orang-orang Cina dahulu telah melakukan kegiatan manajemen (dalam bentuk apapun kegiatan manajemen tersebut sehingga bangunan benteng yang kokoh dapat tetap bertahan hingga hari ini. Selain itu juga Candi Borobudur di Indonesia, dan masih banyak contoh bangunan-bangunan kuno yang sangat rumit bisa dibangun oleh nenek monyang kita. Dari bukti-bukti tersebut dapat dilihat bagaimana orang-orang dahulu telah menerapkan manajemen.

Secara keilmuan, manajemen baru terumuskan kurang lebih di abad 18 atau awal abad 19 Masehi. Diantara tokoh-tokoh yang mula-mula memperkenalkan manajemen secara keilmuan adalah Robert Owen (1771-1858) dan Charles Babbage (1972-1871). Owen seorang pembaru dan indrustrialisasi dari Inggris adalah di antara tokoh pertama yang menyatakan perlunya sumber daya manusia di dalam organisasi dan kesejahteraan pekerja. Sedangkan Babbage seorang ahli matematika dari Inggris orang yang pertama kali berbicara mengenai pentingnya efisiensi dalam proses produksi. Dia meyakini akan perlunya pembagian kerja dan perlunya penggunaan matematika dalam efisiensi penggunaan fasilitas dan material produksi (Ernie dan Saefullah: 2005).

Dengan demikian bisa dikatakan Robert Owen dan Charles Babbage adalah pionir dalam ilmu manajemen.

Perkembangan Teori Manajemen
Apa yang telah dikenalkan oleh Owen dan Babbage pada akhir abad 19 memberikan kontribusi yang berharga bagi para praktisi manajemen bahwa organisasi bisnis perlu dikelola secara benar, terutama jika organisasi tersebut berskala besar dan melibatkan banyak sekali orang dan sumber daya yang harus dikelola. Kontribusi Owen dan Babbage seolah telah membukakan mata para praktisi bisnis pada saat itu bagaimana seharusnya bisnis dijalankan. Bermunculan pula setelah itu berbagai teori-teori dalam ilmu manajemen.

Perkembangan pemikiran manajemen sebagai praktik yang dilandasi konsep teori (Tim Dosen Administrasi Pendidikan: 2009) adalah sebagai berikut:

a. Teori Manajemen Aliran Klasik (1890-1930)
Frederick W Taylor, Henry L Gantt, Frank Bunker Gillberth dan Lilian Gillberth adalah tokoh-tokoh dibalik teori manajemen ilimiah. Mereka memikirkan suatu cara meningkatkan produktivitas dengan menangani kondisi kekurangan tenaga terampil melalui efisiensi para pekerja.

Taylor disebut sebagai “bapak manajemen ilmiah” dengan karyanya “scientific management” yang telah memberikan prinsip-prinsip dasar penerapan pendekatan ilmiah pada manajemen, dan mengembangkan sejumlah teknik-tekniknya untuk mencapai efisiensi. Empat prinsip dasar yang dikembangkan Taylor adalah:
1. Pengembangan metode ilimah alam manajemen agar suatu perkejaan dapat ditentukan metode pencapaian tujuannya secara maksimal.
2. Seleksi ilmiah untuk karyawan agar para karyawan dapat diberika tugas dan tanggung jawab sesuai keahlian.
3. Pendidikan dan pengembangan karyawan.
4. Kerjasama yang harmonis antara manajemen dan para karyawan.

Teknik yang digunakan untuk melaksanakan prinsip tersebut adalah melalui studi gerak dan waktu (time and motion studies), pengawasan fungsional, system tariff berbeda yaitu karywan yang lebih produktif dan efisien mendapatkna gaji lebih besar dari yang lainnya.

Kontribusi terbesar dari Gantt adalah dengan menghasilkan metode grafik sebagai teknik scheduling produksi untu perencanaan, koordinasi dan pengawasan produksi yang popular dengan sebutan “Bagan Gantt”.

b. Manajemen Organisasi Klasik (Classical Organization Theory) atau Manajemen Operasional Modern (1900-1940)
Henry Fayol merupakan tokoh teori manajemen operasional manajemen dikenal dengan julukan Bapak teori manajemen modern. Dalam bukunya yang berjudul Administration Industrielle et Generale (Administrasi Industri dan Umum) Fayol membagi aktifivtas-aktivitas industrial dalam enam klompok yaitu teknikal, komersial, financial, keamanan, kepastian, akunting dan manajerial. Ia adalah perumus empat belas prinsip manajemen yaitu:
1) Pembagian kerja
2) Wewenang
3) Disiplin
4) Kesatuan perintah
5) Kesatuan pengarahan
6) Meletakan kepentingan perseorangan di bawah kepentingan umum
7) Balas jasa/imbalan
8) Sentralisasi
9) Rantai scalr/khirarki
10) Order/susunan
11) Keadilan
12) Stabilitas staf organisasi
13) Inisiatif
14) Esprit de corps (semangat korps)

Fayol percaya bahwa melalui penguasaan keterampilan dan prinsip dasar manajemen orang yang mendalaminya dapat menjadi manajer yang baik.

c. Aliran Perilaku (1924-1940)
Elton Mayo dan F.J. Roethlisberger melakukan studi tentang perilaku manusia dalam bermacam situasi kerja di pabrik Hawthorner milik perusahaan Western Electric dengan temuan bahwa kelompok kerja informal lingkungan sosial karyawan memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas.

McGregor memandang perlu adanya perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi diri karyawan dengan menjunjukan dua kategori manusia yaitu manusia X dan manjusia Y atau lebih dikenal dengan teori X dan teori Y. Manusia tipe X adalah manusia yang harus selalu diawasasi agar mau melakukan usaha dalam pekerjaan mereka. Sedangkan manusia Y sebaliknya, ia bersemangat bekerja sebagai kesempatan untuk mengaktualisasikan diri tanpa ada pengawasan sekalipun.

Di samping penelitian yang focus terhadap perilaku manusia, dikembangkan juga aliran perilaku organisasi yang memandang bahwa hubungan manusia dalam manajemen berada dalam konteks organisasi. Diantara tokohnya adalah Abraham Maslow, Frederick Herzberg, Edgar Schein.

Aliran perilaku organisasi menganut prinsip bahwa:
1) Organisasi adalah satu keseluruhan jangan dipandang bagian perbagian.
2) Motivasi karyawan sangat penting yang menghasilkan komitmen untuk pencapaian tujuan organisasi.
3) Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknis secara ketat (peranan, prosedur dan prinsip).

d. Pendekatan Sistem (1940-sekarang)
Pendekatan sistem memandang bahwa organisasi sebagai sistem yang dipersatukan dan diarahkan dari bagian-bagian/komponen-komponen yang saling berkaitan. Chester I Barnard menjelaskan dalam “the functions of the executive” bahwa tugas manajer adalah menyarankan pendekatan sistem sosial komprehensif dalam aktifitas “managing”.

Komponen-komponen/bagian-bagian tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, merupakan satu kesatuan utuh yang saling terkait, terika, memperngaruhi, membutuhkan, dan menentukan. Oleh karena itu harus disadari bahwa perubahan satu komponen akan berpengaruh terhadap komponen-komponen lainnya. Dengan demikian berpikir dan bertindak system berarti tidak memandang komponen secara parsial, tetapi saling terpadu satu sama lain secara sinergi.

Sinergi berarti bahwa keseluruhan lebih besar daripada jumlah dari bagian-bagiannya. System yang sinergi adalah tiap-tiap unti atau bagian-bagian bekerja dengan serius dalam tatanannya dan menyadari secara penuh dan bertanggung jawab terhadap kemajuan system secara umum.

Sistem memiliki makna bahwa (1) suatu system terdiri atas bagian-bagian yang saling terkait satu dengan yang lainnya, (2) bagian-bagian yang saling hubung itu dapat berkerja dan berfungsi secara independent atau bersama-sama, (3) berfungsinya bagian-bagian tersebut ditujukan untuk mencapai tujuan umum dari keseluruhan (sinergi), (4) suatu system yang terdiri atas bagian-bagian yang saling hubung tersebut berada dalam suatu lingkungan yang kompleks.

e. Pendekatan Kontingensi atau Pendekatan Situsional (1950-sekarang)
Pendekatan kontingensi atau pendekatan situasional adalah suatu aliran teori manajemen yang menekankan pada situasi atau kondisi tertentu yang dihadapi. Tidak seluruh metode manajemen ilmiah dapat diterapkan untuk seluruh situasi begitupun tidak selalu hubungan manusiawi yang perlu ditekankan karena adakalanya pemecahan yang efektif melalui pendekatan kauantitatif. Itu semua sangat tergantung pada karakteristik situasi yang dihadapi dan tujuan yang ingin dicapai.

Sejarah, Pengertian Dan Manfaat Pengembangan Digital Library

Sejarah, Pengertian Dan Manfaat Pengembangan Digital Library 
Gagasan yang muncul pertama kali sebagai dasar konsep perpustakaan digital muncul pada bulan Juli tahun 1945 oleh Vannevar Bush. Beliau mengeluhkan penyimpanan informasi manual yang menghambat akses terhadap penelitian yang sudah dipublikasikan. Untuk itu, Bush mengajukan ide untuk membuat catatan dan perpustakaan pribadi (untuk buku, rekaman/dokumentasi, dan komunikasi) yang termekanisasi. 

Selama dekade 1950-an dan 1960-an keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan terus diusahakan oleh peneliti, pustakawan, dan pihak-pihak lain, tetapi teknologi yang ada belum cukup menunjang. 

Pada awal 1980-an fungsi-fungsi perpustakaan telah diotomasi melalui perangkat komputer, namun hanya pada lembaga-lembaga besar mengingat biaya investasi yang tinggi. Misalnya pada Library of Congress di Amerika yang telah mengimplementasikan sistem tampilan dokumen elektronik (electronic document imaging systems) untuk kepentingan penelitian dan operasional perpustakaan.Dari sudut pandang pengguna, komputer bukanlah bagian dari fasilitas manajemen perpustakaan melainkan hanya pelayanan untuk digunakan staf perpustakaan. 

Pada awal 1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang dengan otomasi dalam jumlah dan cara tertentu. Fungsi-fungsi tersebut antara lain pembuatan katalog, sirkulasi, peminjaman antar perpustakaan, pengelolaan jurnal, penambahan koleksi, kontrol keuangan, manajemen koleksi yang sudah ada, dan data pengguna. Dalam periode ini komunikasi data secara elektronik dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya semakin berkembang dengan cepat. Pada tahun 1994, Library of Congress mengeluarkan rancangan National Digital Library dengan menggunakan tampilan dokumen elektronik, penyimpanan dan penelusuran teks secara elektronik, dan teknologi lainnya terhadap koleksi cetak dan non-cetak tertentu. Selanjutnya pada September 1995, enam universitas di Amerika diberi dana untuk melakukan proyek penelitian perpustakaan digital.

Penelitian yang didanai NSF/ARPA/NASA ini melibatkan peneliti dari berbagai bidang, organisasi penerbit dan percetakan, perpustakaan-perpustakaan, dan pemerintah Amerika sendiri. Proyek ini cukup berhasil dan menjadi dasar penelitian perpustakaan digital di dunia. 

Pengertian Digital Library
Ada banyak definisi perpustakaan digital berdasarkan pendapat para ahli atau beberapa lembaga. Berikut beberapa definisi yang dirumuskan oleh lembaga/orang lain. 

The Digital Library Initiatives menggambarkan perpustakaan digital sebagai lingkungan yang bersama-sama memberi koleksi, pelayanan, dan manusia untuk menunjang kreasi, diseminasi, penggunaan, dan pelestarian data, informasi, dan pengetahuan. 

Saffady mendefinisikan perpustakaan digital secara luas sebagai koleksi informasi yang dapat diproses melalui komputer atau repositori untuk informasi-informasi semacam itu. 

Millard mendefinisikannya sebagai perpustakaan yang berbeda dari sistem penelusuran informasi karena memiliki lebih banyak jenis media, menyediakan pelayanan dan fungsi tambahan, termasuk tahap lain dalam siklus informasi, dari pembuatan hingga penggunaan. Perpustakaan digital bisa dianggap sebagai institusi informasi dalam bentuk baru atau sebagai perluasan dari pelayanan perpustakaan yang sudah ada. 

Billington, pustakawan Library of Congress, dalam Rogers (1994), melukiskan perpustakaan digital sebagai sebuah koalisi dari institusi-institusi yang mengumpulkan koleksi-koleksinya yang khas secara elektronik. 

Drobnik dan Monch (dalam Nugroho, 2000) mendefinisikan perpustakaan digital sebagai sekumpulan dokumen elektronik yang diorganisasikan agar mudah ditemukan ulang dan dibaca. 

Association of Research Libraries (ARL), 1995, mendefinisikan perpustakaan digital sebagai berikut: 
  • Perpustakaan digital bukanlah kesatuan tunggal. 
  • Perpustakaan digital memerlukan teknologi untuk dapat menghubungkan ke berbagai sumberdaya. 
  • Hubungan antara berbagai perpustakaan digital dan layanan informasi bagi pemakai bersifat transparan. 
  • Akses universal terhadap perpustakaan digital dan layanan informasi merupakan suatu tujuan. 
  • Koleksi-koleksi perpustakaan digital tidak terbatas pada wakil dokumen; koleksi meluas sampai artefak digital yang tidak dapat diwakili atau didistribusikan dalam format tercetak. 
Wahono mendefinisikan perpustakaan digital sebagai suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Menurutnya, istilah perpustakaan digital memiliki pengertian yang sama dengan perpustakaan elektronik (electronic library) dan perpustakaan maya (virtual library) 

Dari definisi-definisi di atas dapat diambil sintesa bahwa perpustakaan digital adalah organisasi atau lingkungan yang mengelola koleksi informasi berupa tulisan, gambar, dan suara dalam bentuk elektronik dan memberikan pelayanan kepada pengguna melalui jaringan internet. 

Peran Perpustakaan Digital
Digital Library berperan sebagai penyedia informasi, penyedia layanan informasi, atau pengguna informasi dengan memanfaatkan jaringan dan teknologi digital. Namun bagaimana koleksi digital itu dimanfaatkan, sangat tergantung dari bagaimana informasi tersebut dibuat, diorganisasikan, dan disajikan. 

Selain itu Digital Library bukan hanya berkenaan dengan manajemen pengetahuan (knowledge management) dan informasi, tetapi menjelaskan bahwa perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi mulai diharapkan untuk menjalankan peranan yang lebih sebagai pendamping dalam proses pendidikan seumur hidup. Tantangan bagi pustakawan adalah untuk memahami dan menentukan posisinya dalam proses perubahan dan beralih dari pemikiran perpustakaan sebagai ruang fisik semata ke suatu kenyataan baru perpustakaan sebagai organisasi yang harus mengembangkan jenis layanan informasi digital. 

Motif-motif yang Mendasari Pengembangan Perpustakaan Digital 
Pada perpustakaan konvensional, akses terhadap dokumen terbatas pada kedekatan fisik. Pengguna harus datang untuk mendapat dokumen yang diinginkan, atau melalui jasa pos. Untuk mengatasi keterbatasan ini perpustakaan digital diharap mampu untuk menyediakan akses cepat terhadap katalog dan bibliografi serta isi buku, jurnal, dan koleksi perpustakan lainnya secara lengkap. 

Melalui komponen manajemen database, penyimpanan teks, sistem telusur, dan tampilan dokumen elektronik, sistem perpustakaan digital diharap mampu mencari database koleksi yang mengandung karakter tertentu, baik sebagai kata maupun sebagai bagian kata. Di perpustakaan konvensional penelusuran seperti ini tidak mungkin dilakukan. 

Untuk menyederhanakan perawatan dan kontrol harian atas koleksi perpustakaan. 
Untuk mengurangi bahkan menghilangkan tugas-tugas staf tertentu, misalnya menaruh terbitan baru di rak, mengembalikan buku yang selesai dipinjam ke rak, dan lain-lain. 

Untuk mengurangi penggunaan ruangan yang semakin terbatas dan mahal. 

Perpustakaan semi modern
Dalam dunia perpustakaan semi modern, buku atau dokumen sudah tersimpan dan tertata rapi. Selain itu juga sudah mempunyai katalog/indek dimana pengunjung dapat mencari dokumen atau data yang dicari sehingga dengan mudah mengetahui letak barang dan statusya apakah masih ada yang tersisa atau sedang dipinjam.

Dalam perpustakaan semi modern, penggunaan ICT (Information Computer Technology) masih terbatas bahkan ada yang hanya sebagai pengganti mesin ketik. Masih banyak hal yang harus dilakukan pustakawan dan pengunjung secara manual sehingga memerlukan energi lebih.

Perpustakaan modern
Perkembangan mutakhir saat ini adalah munculnya perpustakaan digital (digital library). Lebih unggul karena memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet). Bukan berarti sudah tidak ada buku atau media kertas tetapi koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk data elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Dalam format data digital tidak hanya memuat dokumen atau buku tetapi juga termasuk multimedia seperti rekaman audio dan video.

Keunggulan yang lain adalah dari segi pengelolaan. Seperti yang telah kita ketahui dalam business process perpustakaan terdapat beberapa pekerjaan besar yakni: pengelolaan buku/dokumen, manajemen peminjaman, database anggota, pengadaan barang atau buku baru, dan juga laporan-laporan (report) berkala yang dibutuhkan pihak manajemen perpustakaan. Nah, saat ini muncul kebutuhan bahwa pekerjaan-pekerjaan seperti tersebut diatas sudah harus digantikan oleh teknologi informasi atau dikenal sebagai sistem otomasi perpustakaan (library automation system).

Pengelolaan Dokumen Elektronik
Pengelolaan dokumen elektronik memerlukan teknik khusus yang memiliki perbedaan dengan pengelolaan dokumen tercetak. Proses pengelolaan dokumen elektronik melewati beberapa tahapan, yang dapat kita simpulkan dalam proses digitalisasi, penyimpanan dan pengaksesan/temu kembali dokumen. Pengelolaan dokumen elektronik yang baik dan terstruktur adalah bekal penting dalam pembangunan sistem perpustakaan digital (digital library). Proses-proses tersebut bisa dijabarkan sebagai berikut :

Proses Digitalisasi Dokumen 
Proses perubahan dari dokumen tercetak (printed document) menjadi dokumen elektronik sering disebut dengan proses digitalisasi dokumen. Seperti pada Gambar 1, dokumen mentah (jurnal, prosiding, buku, majalah, dsb) diproses dengan sebuah alat (scanner) untuk menghasilkan dokumen elektronik. Ini tidak diperlukan lagi apabila dokumen elektronik sudah menjadi standar dalam proses dokumentasi sebuah organisasi, maksudnya ketika dalam sebuah lembaga mengedarkan atau mengeluarkan dokumen tercetak mereka juga telah mengarsipkannya kedalam format digital seperti .pdf atau format data lainnya. Berita bagus bahwa saat ini telah banyak media umum atau buku yang telah menyertakan cd atau dvd yang berisi versi digital dan file-file referensi-referensinya.


Gambar. Proses Digitalisasi dokumen

Proses Penyimpanan 
Pada tahap ini dilakukan proses penyimpanan, proses tersebut meliputi : pemasukan data (data entry), editing, pembuatan indeks dan klasifikasi berdasarkan subjek dari dokumen. Klasifikasi bisa menggunakan UDC (Universal Decimal Classification) atau DDC (Dewey Decimal Classfication) yang banyak digunakan di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia.

Ada dua metoda dalam proses penyimpanan, yaitu pendekatan berbasis file (file base approach) dan pendekatan basis data (database approach). Masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kita dapat memilihnya sesuai dengan kebutuhan seperti tabel dibawah ini.

Pada tabel di atas, proses penyimpanan yang menggunakan metode file base approach menyebabkan terjadinya duplikasi data, keterikatan data, adanya format file yang tidak sesuai, dan simple. Sedangkan penyimpanan yang menggunakan database approach, memiliki data yang dapat dibagi dan tidak ada duplikasi data, data dapat diakses dan dimanipulasi dengan mudah, memiliki format yang sesuai serta bersifat kompleks.

Proses Pengaksesan dan Pencarian Kembali Dokumen 
‘Pencarian’, adalah inti seberapa maju layanan dari sebuah koleksi dalam perpustakaan. Semakin mudah dan cepat anggota atau pengunjung menemukan apa yang diinginkan maka mereka akan puas, bersemangat dan kembali lagi. Inti dari proses ini adalah bagaimana kita dapat melakukan pencarian kembali terhadap dokumen yang telah disimpan. Dalam skala besar metode pendekatan database akan lebih fleksibel dan efektif.

Dan menariknya, sifat pendekatan database yang memiliki kebebasan terhadap data (data independence), dengan data yang sama kita bisa membuat interface ke berbagai aplikasi lain baik yang berbasis standalone (clientbase) maupun web-base.

Gambar Pencarian Dokumen dengan Web

Pengembangan Sistem Sesuai Kebutuhan
Sebuah sistem apapun harus merujuk dari proses bisnis yang ada. Karena itulah yang sebenarnya sedang dibutuhkan, maka kalau ada sebuah sistem yang dibuat bukan berdasarkan kebutuhan maka presentase keberhasilannya semakin kecil. Normalnya, seorang petugas atau pemakai tidak ingin menjadi lebih ’sulit’ dan tidak ingin ’ditambahi’ tugasnya tetapi pengin lebih ’gampang’ dan cepat serta akurat dengan adanya sebuah sistem baru.

Idealnya, sistem otomasi perpustakaan yang baik adalah yang terintegrasi, mulai dari sistem pengadaan bahan pustaka, pengolahan bahan pustaka, sistem pencarian kembali bahan pustaka, sistem sirkulasi, membership, pengaturan denda keterlambatan pengembalian, dan sistem reporting aktifitas perpustakaan. Lebih sempurna lagi jika dilengkapi dengan barcoding, dan mekanisme pengaksesan data berbasis web dan internet. Setiap pengunjung disediakan layar berikut keyboard (lebih banyak komputer lebih bagus) untuk melakukan login kemudian mencari buku yang dimaksud, jika ditemukan versi elektroniknya maka bisa langsung dinikmati (dilihat atau didengarkan) tetapi jika ingin membaca langsung tinggal menuju lokasi yang telah ditunjukkan (jika status bukunya berada ditempat). Petugas-pun akan lebih mudah dalam menambah, memantau koleksi pustaka dan menyediakan laporan (report) aktifitas perpustakaan kepada manajemen.

Berikut adalah salah satu contoh sistem otomasi perpustakaan dengan fitur-fitur yang mengakomodasi kebutuhan perpustakaan secara lengkap, dari pengadaan, pengolahan, penelusuran, serta manajemen anggota dan sirkulasi. Diharapkan contoh sistem yang ditampilkan dapat dijadikan studi kasus dalam pengembangan sistem otomasi perpustakaan lebih lanjut.

Otentikasi Sistem 
Sistem akan melakukan pengecekan apakah username dan password yang dimasukkan adalah sesuai dengan yang ada di database. Kemudian juga mengatur tampilan berdasarkan previlege pemilik account, apakah dia sebagai pengguna atau admin dari sistem.

Menu utama 
Menampilkan berbagai menu pengadaan, pengolahan, penelusuran, anggota dan sirkulasi, katalog peraturan, administrasi dan security. Menu ini dapat di setting untuk menampilkan menu sesuai dengan hak akses user (previlege), misal kita bisa hanya mengaktifkan menu penelusuran untuk pengguna umum, dsb

Administrasi, Security dan Pembatasan Akses 
Fitur ini mengakomodasi fungsi untuk menangani pembatasan dan wewenang user, mengelompokkan user, dan memberi user id serta password. Juga mengelola dan mengembangkan serta mengatur sendiri akses menu yang diinginkan.

Pengadaaan Bahan Pustaka 
Fitur ini mengakomodasi fungsi untuk pencatatan permintaan, pemesanan dan pembayaran bahan pustaka, serta penerimaan dan laporan (reporting) proses pengadaan.

Pengolahan Bahan Pustaka 
Fitur ini mengakomodasi proses pemasukkan data buku/majalah ke database, penelusuran status buku yang diproses, pemasukkan cover buku/nomer barcode, pencetakan kartu katalog, label barcode, dan nomor punggung buku (call number).

Penelusuran Bahan Pustaka 
Penelusuran atau pencarian kembali koleksi yang telah disimpan adalah suatu hal yang penting dalam dunia perpustakaan. Fitur ini harus mengakomidasi penelusuran melalui pengarang, judul, penerbit, subyek, tahun terbit, dsb.

Manajemen Anggota dan Sirkulasi 
Ini termasuk jantungnya sistem otomasi perpustakaan, karena sesungguhnya disiniah banyak kegiatan manual yang digantikan oleh komputer dengan jalan mengotomasinya. Didalamnya terdapat berbagai fitur diantaranya: pemasukkan dan pencarian data anggota perpustakaan, pencatatan peminjaman dan pengembalian buku (dengan teknologi barcoding), penghitungan denda keterlambatan pengembalian buku, dan pemesanan peminjaman buku

Pelaporan 
Sistem reporting yang memudahkan pengelola perpustakaan untuk bekerja lebih cepat, dimana laporan dan rekap dapat dibuat secara otomatis, sesuai dengan parameterparameter yang dapat kita atur. Sangat membantu dalam proses analisa aktifitas perpustakaan, misalnya kita tidak perlu lagi membuka ribuan transaksi secara manual untuk melihat transaksi peminjaman koleksi dalam satu kategori, atau mengecek aktifitas seorang pengguna perpustakaan dalam 1 tahun

Fitur-fitur di dalam Digital Library
Dibawah ini beberapa fitur-fitur yang ada dalam perpustakaan digital, yaitu:

1. Otentikasi Sistem
Melakukan pengecekan apakah username dan password sesuai dengan database.
Termasuk mengatur tampilan berdasarkan previlege pemilik account.

2. Menu Utama
Menampilkan berbagai menu utama yang bisa diatur Administrator.

3. Administrasi, Security dan Hak Akses
Mengangani pembatasan dan wewenang, mengelompokkan user, dan memberi user id serta password.

4. Pengadaan Bahan Pustaka
Mengakomodasi fungsi pencatatan permintaan, pemesanan dan pembayaran bahan pustaka, penerimaan dan laporan (reporting) proses pengadaan.

5. Pengolahan Bahan Pustaka
Mengakomodasi proses pemasukkan data buku/majalah ke database, penelusuran status buku yang diproses, pemasukkan cover buku/nomer barcode, pencetakan kartu katalog, label barcode, dan nomor punggung buku (call number).

6. Penelusuran Bahan Pustaka
Penelusuran atau pencarian kembali koleksi. Fitur ini harus mengakomodasi penelusuran melalui pengarang, judul, penerbit, subyek, tahun terbit, dsb.

7. Manajemen Anggota dan Sirkulasi
Ini termasuk jantungnya sistem otomasi perpustakaan, karena sesungguhnya disinilah banyak kegiatan manual yang digantikan oleh komputer. Didalamnya terdapat berbagai fitur diantaranya: input dan cari anggota, pencatatan peminjaman dan pengembalian buku, penghitungan denda, dan pemesanan peminjaman buku.

8. Pelaporan (Reporting)
Pengelola dapat bekerja lebih cepat. Laporan dan rekap dapat dibuat secara otomatis sehingga sangat membantu dalam proses analisis keputusan. Tanpa harus membuka transaksi manual atau mengecek aktifitas anggota dalam 1 tahun.

Keberadaan perpustakaan yang ideal dan lengkap tidak bisa diwujudkan dalam sekejap. Perlu pentahapan dan perhatian yang khusus tidak hanya sekedar sambilan. Dalam lingkup lembaga atau perusahaan, biasanya perlu bagian khusus untuk menangani hal tersebut biasanya cukup dekat dengan tugas dan bagian litbang. Dalam lingkup keluarga kita sendiri, perlu juga sebuah perpustakaan lho. Mungkin manfaatnya tidak dirasakan sekarang tapi yakinlah bahwa akan sangat berguna sekali untuk esok.

Teknologi Informasi untuk Perpustakaan
Dunia perpustakaan semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke depan. Perkembangan dunia perpustakaan ini didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya yang telah merambah ke berbagai bidang. Hingga saat ini tercatat beberapa masalah di dunia perpustakaan yang dicoba didekati dengan menggunakan teknologi informasi.

Dari segi data dan dokumen yang disimpan di perpustakaan, dimulai dari perpustakaan tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog, kemudian muncul perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog (index). mengalami metamorfosa menjadi katalog elektronik yang lebih mudah dan cepat dalam pencarian kembali koleksi yang disimpan di perpustakaan. Koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Ini adalah perkembangan mutakhir dari perpustakaan, yaitu dengan munculnya perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet).

Di sisi lain, dari segi manajemen (teknik pengelolaan), dengan semakin kompleksnya koleksi perpustakaan, data peminjam, transaksi dan sirkulasi koleksi perpustakaan, saat ini muncul kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi business process di perpustakaan. Sistem yang dikembangkan dengan pemikiran dasar bagaimana kita melakukan otomatisasi terhadap berbagai business process di perpustakaan, kemudian terkenal dengan sebutan sistem otomasi perpustakaan (library automation system).

Masalah dan Isu-Isu mengenai Digital Library
Pengembangan perpustakaan digital bukan tidak mengalami hambatan. Ada beberapa hal yang menjadi bahan perhatian, yaitu: 

Kemampuan dan penentuan biaya. Seperti halnya dengan inovasi lain yang membutuhkan suatu investasi, begitu pun perpustakaan digital. Apalagi infrastruktur komputer masih membutuhkan biaya yang besar. 

Masalah hak cipta yang terbagi dua: hak cipta pada dokumen yang didigitalkan dan hak cipta pada dokumen di communication network. Di dalam hukum hak cipta masalah transfer dokumen lewat jaringan komputer belum didefinisikan dengan jelas. 

Masalah mendigitalkan dokumen. Yaitu bagaimana mendigitalkan dokumen dan jenis penyimpanan digital dokumen, baik berupa full text maupun page image. 



    Masalah penarikan biaya. Hal ini menjadi masalah terutama untuk perpustakaan digital swasta yang menarik biaya atas setiap dokumen yang diakses. Penelitian di bidang ini banyak mengarah ke pembuatan sistem deteksi pengaksesan dokumen atau pun upaya mewujudkan electronic money.

    Sejarah Singkat Dan Perkembangan Pasar Modal Indonesia

    Sejarah Singkat Dan Perkembangan Pasar Modal Indonesia 
    Pasar modal Indonesia didirikan pada tahun 1900-an ketika Indonesia dijajah Belanda. Kemudian pasar modal Indonesia mengalami pasang surut, sempat mengalami pasang surut pada masa orde lama. Perkembangan pasar modal Indonesia pada masa orde baru dimulai 10 Agustus 1977 ketika pasar modal Indonesia diaktifkan kembali oleh pemerintah, bapepam dan PT. Dana Reksa. Akan tetapi, pasar modal Indonesia baru berkembang dengan pesat setelah pemerintah melakukan deregulasi pada pasar modal dan perbankan dengan mengeluarkan Pakto 1988. Hal ini terus berlangsung sampai tahun 1997 ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia.

    Pasar modal Indonesia mulai bangkit pada tahun 2002 yang ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 8% setelah mengalami penurunan sebesar 6% pada tahun 2001 dan 39% pada tahun 2000. Setelah itu pasar modal Indonesia terus berkembang dengan cukup baik, puncaknya pada tanggal 9 Januari 2008 dimana IHSG mencacat rekor tertinggi nya pada level 2.830,26. Akan tetapi krisis ekonomi global yang disertai dengan penurunan harga minyak membawa dampak buruk terhadap pasar modal Indonesia, hal ini menyebabkan pasar modal Indonesia ditutup pada level 1,355.41 di akhir tahun 2008 atau turun 51% dari penutupan akhir 2007. Membaiknya kondisi perekonomian Indonesia yang disertai dengan kondisi politik yang kondusif setelah pemilu 2009 mampu membuat pasar modal Indonesia untuk kembali pada level 2000, terakhir pada penutupan 18 Desember IHSG ditutup pada level 2,509.58

    Berikut ini adalah grafik pergerakan IHSG dari Januari 2004 sampai 8 Desember 2009.

    Grafik  Perkembangan IHSG 2004 – 2009 

    Berikut ini adalah data statistik Bursa Efek Indonesia dari tahun 2004 sampai 2009.

    Tabel  Statistik pasar modal Indonesia 2004 – 2009

    Analisis Fundamental (Makro) Ekonomi 
    1. Produk Domestik Bruto (PDB)
    Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2009 mencapai 2,3 persen dibanding triwulan I-2009 (q-to-q) dan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 mengalami pertumbuhan 4,0 persen (y-on-y). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2009 dibandingkan dengan semester I-2008 tumbuh sebesar 4,2 persen. Besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2009 mencapai Rp1.365,5 triliun, 

    Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi (q-to-q) adalah Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 8,1 persen, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 4,7 persen dan Sektor Pertanian 3,5 persen. Sementara untuk pertumbuhan (y-on-y) Sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh 17,5 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air bersih 15,4 persen dan Sektor Jasa-jasa 7,4 persen.

    Struktur PDB triwulan II-2009 masih didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan, Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran masing-masing memberikan kontribusi sebesar 26,6 persen, 15,6 persen dan 13,3 persen.

    Pertumbuhan PDB pada triwulan II-2009 dibandingkan dengan triwulan I-2009 (q-to-q) sebesar 2,3 persen ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat sebesar 0,2 persen, sementara pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 23,7 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,4 persen, ekspor barang dan jasa 7,4 persen, serta impor barang dan jasa 7,8 persen.

    Dibandingkan dengan triwulan II-2008 (y-on-y), pertumbuhan ekonomi tumbuh 4,0 persen didukung pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,8 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 17,0 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,7 persen. Namun, lain halnya dengan ekspor dan impor barang dan jasa yang menurun masing-masing sebesar 15,7 persen, serta impor barang dan jasa 23,9 persen.

    Pertumbuhan ekonomi semester I-2009 terhadap semester I-2008 (c-to-c) sebesar 4,2 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan Sektor Pertanian sebesar 3,7 persen, Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 2,4 persen, Sektor Industri Pengolahan 1,5 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 13,4 persen, Sektor Konstruksi 6,3 persen, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 0,2 persen, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 17,3 persen, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 5,8 persen serta Sektor Jasa-jasa 7,1 persen.

    Untuk semester kedua tahun 2009 pertumbuhan ekonomi diprediksikan sebesar 4.5% atau mengalami peningkatan 0.3% dari pertumbuhan ekonomi semester I 2009. Dalam penyusunan APBN untuk tahun 2010 pemerintah memprediksikan PDB Indonesia sebesar Rp 5,981.4 Trilliun dengan pertumbuhan ekonomi 5.5%. 

    Dari data diatas bisa kita simpulkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia sudah mulai bangkit setelah sempat mengalami penurunan pada akhir tahun 2008 dan awal 2009. Perekonomian Indonesia juga diharapkan akan terus tumbuh dan berkembang hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7% pertahun pada tahun 2014 (target Kabinet Indonesia Bersatu II). 

    Kondisi perekonomian ini akan membuat sektor riil untuk berkembang dan tumbuh, perusahaan akan melakukan ekspansi bisnis dan para investor akan kembali melakukan investasi setelah sebelumnya mereka menahan investasi. Pertumbuhan yang tinggi juga akan membuat peningkatan pendapatan masyarakat sehingga bisa membuat konsumsi rumah tangga semakin meningkat. Untuk pasar modal kondisi ini menguntungkan karena akan membuat pasar modal kembali bergairah dan diharapkan akan membuat nilai IHSG untuk terus naik.

    2. Siklus Bisnis
    Siklus bisnis merefleksikan pergerakan aktivitas ekonomi secara menyeluruh yang menyatukan banyak bagian aktivitas ekonomi yang terpisah. Hubungan antara ekonomi dan pasar modal saham adalah sebagai berikut: harga saham yang tercermin dari Composite Index atau jika di Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum merupakan leading indicator ekonomi suatu negara. 

    Dari data perdagangan saham di bursa efek kita mengetahui bahwa IHSG pada tanggal 31 Oktober 2009 ditutup pada level 2,367.70 atau meningkat 74.68% bila dibandingkan dengan titik terendah pada akhir tahun 2008 yaitu pada level 1,355.41. Berdasarkan data diatas bisa kita simpulkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sedang mengalami pertumbuhan setelah terkena imbas dari krisis ekonomi global.

    3. Suku Bunga
    Tingkat suku bunga bisa menjadi salah satu acuan kondisi ekonomi. Tingkat suku bunga yang tinggi akan menghambat bergeraknya sektor riil, sebaliknya sektor riil akan bergairah saat suku bunga rendah.

    Tingkat suku bunga acuan di Indonesia (SBI) sekarang adalah 6.5% atau sudah turun bila dibandingkan dengan SBI beberapa bulan lalu yang mencapai 8.5%. Turunnya SBI mendorong turun nya suku bunga kredit dan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), ketika SBI berada di atas 8.5% suku bunga kredit dan KPR berada di atas 14%, tetapi dengan penurunan suku bunga kredit sampai pada level 6.5% membuat suku bunga kredit dan KPR turun di kisaran 12%. Turunnya suku bunga kredit dan KPR akan sangat membantu sektor riil yang akan meminjam dana untuk melakukan ekspansi bisnis atau masyarakat yang ingin membeli rumah. Sehingga akan membuat sektor riil dan sektor property kembali bergairah.

    Di sisi lain turunnya SBI juga membuat turunnya suku bunga deposito menurun, turunnya suku bunga deposito (sekarang rata-rata 8%) akan membuat para investor untuk menarik dana yang diinvestasikan ke deposito untuk diinvestasikan ke pasar saham, sehingga akan membuat harga saham kembali naik.

    Dalam penyusunan APBN untuk tahun 2010 pemerintah memprediksikan SBI adalah sebesar 6.5% atau pada sama dengan SBI pada akhir 2009, tetapi para analis memprediksikan bahwa SBI akan dinaikkan untuk mengantisipasi naiknya inflasi karena membaiknya kondisi perekonomian Indonesia. 

    Inflasi
    Tingkat Inflasi cukup berpengaruh terhadap harga saham dengan hubungan yang terbalik. Harga saham akan naik jika inflasi rendah, dan sebaliknya harga saham cenderun turun saat inflasi tinggi.

    Sampai bulan Oktober inflasi Indonesia untuk tahun 2009 mencapai 2.84% dan diperkirakan inflasi pada tahun 2009 berada pada level 4 – 4.5%. Inflasi yang rendah ini dikarenakan turunnya kegiatan perekonomian kita karena dampak dari krisis ekonomi global. Dalam penyusunan APBN untuk tahun 2010 pemerintah memprediksikan inflasi pada tahun 2010 sebesar 5%, nilai ini menunjukkan bahwa pekonomian Indonesia sudah bangkit sehingga membuat konsumsi meningkat sehingga membuat harga naik. Dengan inflasi yang rendah ini diprediksikan harga saham akan terus naik pada tahun 2010.

    Kurs
    Untuk di Indonesia, penguatan nilai mata uang utama dunia (US Dollar), akan mendorong investor besar untuk mengalihkan investasinya ke mata uang tersebut yang pada akhirnya mendorong penjualan saham sehingga harga saham turun. 

    Seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi di Amerika, nilai US Dollar terhadap Rupiah mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Sempat mencapai 11,000 per USD hingga 9,400 per USD. Tetapi dalam jangka panjang diprediksikan nilai USD akan menurun. 

    Fluktuasi nilai tukar USD berpengaruh kepada pasar modal, tetapi dengan penurunan USD di masa yang akan datang akan membuat para investor akan mengalihkan dana investasinya ke pasar modal.

    Rencana Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu II
    Pemerintah yang baru saja terbentuk dan dilantik sudah menyusun rencana kerja untuk lima tahun kedepan. Berikut adalah beberapa rencana pemerintah yang berkaitan dengan bidang ekonomi:
    1. Pertumbuhan ekonomi sebesar 7% pada tahun 2014.
    2. Menurunkan angka pengganguran.
    3. Memperbaiki infrastruktur.
    4. Proyek listrik satu juta megawatt.
    5. Menghapus mafia peradilan.

    Rencana-rencana tersebut jika bisa dilaksanakan dengan baik maka akan berpengaruh kepada sektor riil dan akan mendorong kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain juga akan mendorong para investor untuk melakukan investasi ke beberapa sektor yang menjadi perhatian utama pemerintah.

    Harga Minyak Dunia
    Harga minyak dunia juga merupakan salah satu faktor ekonomi yang bisa mempengaruhi arah pasar saham. Semakin tinggi harga minyak dunia maka akan menyebabkan harga saham pertambangan dan energi di Indonesia akan naik dan akan membuat IHSG terangkat seperti yang terjadi pada semester pertama 2008, ketika harga minyak dunia menembus level 100 USD per barel IHSG mencapai titik tertingginya. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak turun pada level 40 USD per barel, IHSG mencapai titik terendahnya.

    Pada semester kedua ini harga minyak dunia sudah berada pada level 80 USD per barel, naiknya harga saham ini disebabkan naiknya permintaan yang didorong oleh membaiknya kondisi ekonomi dunia dan persiapan menjelang musim dingin di Eropa dan Amerika. Harga minyak dunia diprediksikan pada tahun 2010 akan berada level 80 USD perbarel dan masih ada kemungkinan untuk naik. Harga ini di satu sisi akan membuat harga saham kita untuk naik, tetapi disisi lain juga akan membuat pemerintah menaikkan kembali harga bahan bakar minyak (BBM) karena tingginya jumlah subsidi yang harus ditanggung pemerintah jika harga minyak terus 80 USD per barel. Apalagi asumsi harga minyak yang digunakan pemerintah dalam menyusun APBN 2010 adalah sebesar 65 USD per barel.

    Analisis Sektor Industri
    1.  Kondisi Umum Sektor Industri Indonesia
    Kondisi perekonomian Indonesia yang sedang memasuki fase recovery dari efek krisis global membuat beberapa sektor industri bisa berkembang lebih cepat dari sektor industri yang lain.

    Sektor industri yang stabil seperti consumer goods dan retail masih akan berkembang dengan baik seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya konsumsi masyarakat. Selain itu pertumbuhan konsumsi juga akan mendorong industri keuangan dan telekomunikasi semakin bergairah.

    Membaiknya kondisi perekonomian dunia juga akan mendorong peningkatan kegiatan produksi dan konsumsi energi sehingga membuat sektor pertambangan, energy dan perkebunan untuk terus tumbuh. 

    Program kerja kabinet Indonesia Bersatu II untuk membangun infrastruktur Indonesia akan membuat industri semen,properti, konstruksi, transportasi dan jalan tol tumbuh. 

    Semakin meningkatnya persaingan dari China dan India akan membuat industri tekstil dan garmen semakin lemah, sedangkan peningkatan regulasi terhadap rokok akan membuat industri rokok tidak begitu bagus di masa depan.

    2. Sektor Properti Indonesia
    Sektor properti adalah salah satu sektor industri yang paling tua di Indonesia, pemain yang bermain dalam sektor ini cukup banyak mulai dari pemain tingkat internasional sampai pemain lokal kecil-kecilan. Di Industri ini setidaknya ada 104 usaha yang terkait satu sama lain mulai dari industri semen, tukang batu, perbankan hingga kontraktor.

    Bisnis pada sektor properti muncul dari kebutuhan masyarakat untuk rumah dan tempat berusaha, hal ini didukung fakta bahwa terdapat kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan (back log) rumah yang saat ini sudah mencapai 7,9 juta. 

    Tingginya permintaan terhadap properti menjadi salah satu hal yang membuat sektor ini masih mempunyai prospek yang sangat bagus di masa yang akan datang, apalagi didukung dengan penurunan suku bunga KPR yang akan membantu konsumen dalam pendanaan pembelian rumah. 

    Bisnis properti yang membutuhkan banyak modal membuat banyak pengembang yang membutuhkan dana, salah satu sumber pendanaan yang ada adalah menjual saham di pasar modal Indonesia. Hingga saat ini lebih dari 45 perusahaan sektor industri properti yang sudah menjual saham di pasar modal Indonesia, harga saham perusahaan properti dan real estat tergabung dalam indeks sektor properti dan real estat. Berikut adalah grafik pergerakan sektor properti dan real estat dari Januari 1996 sampai Desember 2008: 

    Grafik Pergerakan Indeks Sektor Properti 1996 -2008

    Dari grafik diatas kita bisa melihat bahwa indeks properti dan real estate mencapai puncak pada awal tahun 2008 bersamaan dengan tercapainya rekor tertinggi IHSG, kemudian menurun sampai pada level 103.49 pada akhir tahun 2008 dan pada 30 Oktober 2009 ditutup pada level 153.99. Bila dibandingkan dengan sektor industri yang lain maka nilai sektor industri properti lebih rendah daripada sektor yang lain.

    Prospek Sektor Properti Indonesia di Masa Depan
    Apabila dilihat dari sisi permintaan maka sektor properti masih mempunyai prospek yang cukup bagus di masa depan hal ini tercermin dari tingginya nilai back log sebesar 7,9 Juta rumah. Membaiknya kondisi ekonomi Indonesia dan dunia juga akan membuat konsumen untuk kembali membelanjakan uangnya untuk membeli properti baru, disamping itu turunnya suku bunga juga akan mendorong turunnya KPR yang akan membuat para konsumen untuk berani membeli rumah dengan menggunakan pinjaman. 

    Program pemerintah yang baru terbentuk untuk memperbaiki infrasktruktur dan listrik yang ada juga merupakan salah satu stimulus yang akan mendorong sektor industri ini berkembang di masa yang akan datang, ditambah dengan program 1 juta menara yang diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah juga akan mengairahkan bisnis di sektor ini. 

    Akan tetapi juga terdapat hambatan yang akan menghambat perkembangan sektor ini, diantaranya regulasi yang masih terlalu ketat untuk kepemilikan asing terhadap properti di Indonesia membuat para investor asing masih enggan untuk memiliki properti di Indonesia. Kemudian masalah birokrasi yang lama dan masih diwarnai dengan praktik KKN membuat para pengembang tidak bisa dengan mudah untuk melakukan ekspansi bisnisnya. Terakhir adalah masalah pembebasan tanah yang cukup rumit dan pelik, sehingga membuat para pengembang susah untuk memulai pembangunan di tempat yang baru.

    Analisis Fundamental PT Jakarta International Hotels & Development Tbk 
    1. Sejarah PT Jakarta International Hotels & Development Tbk
    PT Jakarta International Hotels & Development Tbk didirikan pada bulan November 1969, pada tahun 1974 perusahaan ini menyelesaikan konstruksi Hotel Borobudur Jakarta. Perusahaan ini melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1984 dan termasuk sebagai 24 perusahaan pertama yang listing di Indonesia. 

    Pada tahun 1984 perusahaan melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya, hingga saat ini jumlah saham perusahaan yang ditempatkan dan disetor penuh berjumlah 1.930.039.200 lembar saham. Informasi historis mengenai saham Perusahaan yang dicatatkan di bursa adalah sebagai berikut:

    Pada tahun 1991, perusahaan mengakuisisi PT Danayasa Arthatama, pemilik dan developer pertama Sudirman Central Business District (SCBD). Akuisisi ini telah merubah status perusahaan dari pemilik satu hotel ke berbagai macam pengembangan property, mulai dari gedung komersial, tempat perbelanjaan, residential dan serviced apartments.

    Profil Singkat Anak Perusahaan Perusahaan
    Struktur Perusahaan PT Jakarta International Hotels & Development Tbk:

    Tabel Struktur Perusahaan

    Gambar Kawasan Niaga Terpadu Sudirman

    Adalah misi DA untuk menghasilkan produk-produk property berkualitas yang memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham, dan masing-masing produk dibuat untuk memenuhi kebutuhan para investor, penyewa gedung, dan penghuni residensial.

    Strategi utama DA dalam menghadapi para pesaingnya terletak pada keunggulan lokasi, kualitas dan desain produk, sehingga pada akhirnya akan memberikan keuntungan investasi bagi para investor, serta menempatkan DA pada posisi terbaik diantara pemain properti utama lainnya.