Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2016

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Uang (Deman For Money)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Uang (Deman For Money) 
Uang merupakan hal yang menarik untuk dibicarakan, karena uang merupakan salah satu sendi dalam kehidupan manusia. Mulai dari anak-anak sampai orang tua mereka membutuhkan uang dalam kegiatan mereka baik itu bersifat konsumtif mislanya membeli keperluan sehari-hari maupun untuk kebutuhan spekulasi yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan membeli surat-surat berharga atau obligasi dengan harapan harga jual dari surat berharga dan obligasi yang dimiliki lebih tinggi dari harga beli.

Dalam perekonomian suatu negara atau wilayah uang sangat mempunyai peranan yang sangat penting khususnya dalam bidang perekonomian. Bagi perekonomian uang seperti darah yang mengalir dalam tubuh manusia ketika terhambat maka fungsi organ tubuh tidak akan berjalan sebagai mana mestinya dan manusia akan menjadi sakit karenanya. Sama halnya dengan uang, posisinya harus selalu berputar dalam suatu roda perekonomian apabila terhambat maka perekonomian akan menjadi sakit. Oleh karena itu untuk menjalankan fungsi uang sebagaimana mestinya diperlukan suatu kebijakan oleh Bank Indonesia dengan otoritas moneternya.

Dalam perputaran uang di suatu wilayah selain variabel makro, lembaga juga mempunyai peranan yang kuat untuk masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi. Lembaga yang dimaksud dalam hal ini seperti Bank Indonesia (BI) yang mempunyai otoritas moneter untuk menentukan kebijakan dalam kondisi ekonomi suatu wilayah, ada juga bank umum yang menjalankan perannya dalam tingkat suku bunga untuk ditawarkan kepada masyarakat dimana masyarkat yang tergolong dalam lembaga masyarakat nantinya yang juga akan ikut menentukan kondisi perputaran uang dengan ekspektasi dan konsumsi yang mereka lakukan.

Salah seorang pemikir besar yang menyumbangkan pemikirannya dalam teori moneter adalah Keynes yang berpandangan tentang uang sebagai alat penyimpan nilai. Pandangan ini menyebabkan perlunya analisis tentang pasar uang dengan penawaran uang. Pasar uang, memberikan gambaran tentang perkembangan kelangkaan uang. Perkembangan tingkat kelangkaan uang ditunjukkan dari perkembangan tingkat harga yang terbentuk melalui mekanisme pasar, sedangkan harga dari uang adalah tingkat bunga. Jika tingkat bunga semakin tinggi, maka uang semakin mahal, berarti uang semakin langka, begitu juga sebaliknya.

Dari teori ini dapat dilihat suatu hubungan antara sektor moneter dengan sektor riil. Tingkat bunga yang terbentuk disektor moneter (pasar uang) akan mempengaruhi perilaku disektor riil, khususnya investasi. Sebagai contoh, bila tingkat bunga makin tinggi, permintaan investasi akan menurun, yang juga akan menurunkan tingkat output keseimbangan. Jadi keseimbangan di pasar uang berkaitan dengan pasar barang dan jasa.

Pada saat output nasional bertambah banyak, maka permintaan akan uang untuk kebutuhan transaksi juga akan meningkat. Masyarakat cenderung untuk menjaga nilai beli dari uang yang dipegangnya, agar uang yang dipegang cukup memadai untuk menyelesaikan transaksi-transaksi yang dilakukannya.

Jumlah uang beredar di Sulawesi Selatan selama 2001-2010 memperlihatkan fenomena yang terus berkembang baik itu uang beredar dalam arti sempit (M1) yang terdiri dari uang kartal dan uang giral, maupun uang beredar dalam arti luas (M2) yang merupakan penjumlahan M1 dengan uang kuasi. Hal ini dapat dilihat pada Grafik

Grafik Perkembangan Jumlah Uang Beredar di Sulawesi Selatan Tahun 2001-2020 (Dalam Milyar Rupiah)

Sumber : Data diolah

Terlihat jelas dari grafik bahwa permintaan uang di Sulawesi Selatan terus meningkat terutama di tahun 2006, untuk uang kuasi sendiri peningkatannya cukup pesat sekitar 20,83% yaitu dari Rp. 16,63 trilyun menjadi Rp. 19,65 trilyun. Kenaikan angka tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat likuiditas cukup untuk memenuhi kebutuhan perekonomian di wilayah Sulawesi Selatan. Berdasarkan data yang di tampilkan oleh Bank Indonesia kenaikan permintaan uang tersebut diakibatkan oleh meningkatnya jumlah jaringan kantor bank yang melayani kebutuhan masyarakat yaitu dari 579 kantor bank menjadi 590 kantor bank.

Di tahun berikutnya hanya terjadi sedikit saja perbedaan, dimana permintaan uang cenderung meningkat yang disebabkan oleh ekspektasi dari masyarakat terhadap inflasi yang tinggi terutama untuk bahan-bahan pokok baru. Demikian pula di tahun-tahun berikutnya yang terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan teori yang ada, JUB sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Dimana peningkatan jumlah uang beredar akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya pertumbuhan ekonomi dapat mempengaruhi JUB sebab peningkatan pendapatan akan mendorong peningkatan permintaan uang.

Grafik Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Tahun 2001-2010

Sumber : Data diolah

Pada Grafik dapat dilihat pertumbuhan ekonomi Sulawesi-Selatan pada Tahun 2001-2010 mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun hal ini disebabkan karena tingkat konsumsi masyarakat juga tiap tahunnya mengalami peningkatan. Bukan hanya itu penggunaan akan uang yang dimiliki masyarakat juga sudah mulai bervariasi bukan hanya untuk bertransaksi, tapi juga untuk investasi, tabungan dan belanja modal lainnya. Perilaku ini secara langsung berpengaruh pada tingkat pendapatan Provinsi Selawesi Selatan. Sehingga, berdasarkan sumber data yang didapat Jumlah Uang Beredar dan Pendapatan dapat di katakan signifikan karena pertumbuhannya saling beriringan ke atas.

Selain tingkat pendapatan, tingkat suku bunga juga sangat berpengaruh terhadap permintaan uang. Suku bunga merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam perekonomian suatu wilayah karena sangat berpengaruh terhadap kesehatan perekonomian. Hal ini tidak hanya mempengaruhi keinginan konsumen untuk membelanjakan ataupun menabungkan uangnya tetapi juga mempengaruhi dunia usaha dalam mengambil keputusan. Oleh kerena itu tingkat suku bunga mempunyai pengaruh yang sangat luas, baik pada sektor moneter maupun juga pada sektor riil. 

Suku bunga sangat erat kaitannya dengan tingkat laju inflasi, karena tingkat inflasi ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran terhadap barang dan jasa yang mencerminkan para pelaku pasar dan masyarakat. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat tersebut adalah ekspektasi terhadap laju inflasi dimasa yang akan datang. Ekspektasi laju infasi yang tinggi akan mendorong masyarakat untuk mengalihkan aset finansial yang dimilikinya menjadi aset riil seperti, tanah, rumah, dan barang-barang konsumsi lainnya. Begitu juga sebaliknya ekspektasi laju inflasi yang rendah akan memberikan insentif terhadap masyarakat untuk menabung serta melakukan investasi pada sektor-sektor produktif.

Konsep dan Pengertian
Bank Indonesia membedakan jumlah uang beredar kedalam dua bagaian yaitu JUB dalam arti sempit dan JUB dalam arti luas. JUB dalam arti sempit (M1), yaitu kewajiban sistem moneter yang terdiri dari uang kartal dan uang giral. Uang kartal adalah uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Indonesia dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Republik Indonesia sedangkan Munurut UU No. 7 tentang Perbankan tahun 1992, defenisi uang giral adalah tagihan yang ada di bank umum, yang dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran. Bentuk uang giral dapat berupa cek, giro, atau telegrafic transfer.

JUB dalam arti luas (M2), yaitu kewajiaban sistem moneter yang terdiri dari M1 dan uang kuasi. Uang kuasi adalah aset yang dapat digunakan secara cepat. Uang kuasi terdiri dari deposito, tabungan dan simpanan valas milik swasta domestik. 

Dari kedua defenisi JUB yang dikemukakan oleh Bank Indonesia tersebut diatas, terlihat bahwa komponen M1 merupakan komponen yang paling likuid, karena proses penciptaannya menjadi uang kas begitu cepat dan tidak mengalami perubahan atau kerugian nilai. Sedangkan M2 mempunyai tingkat likuiditas yang paling rendah, karena proses pencariannya memerlukan jangka waktu tertentu .

Dalam bidang ekonomi mengartikan jumlah uang beredar (JUB) adalah uang yang beredar ditangan masyarakat. Defenisi ini terus berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan perekonomian disuatu negara. Konteks perekonomian negara maju cara perhitungannya dapat berbeda dengan negara sedang berkembang. Umumnya cakupan defenisi JUB di negara maju lebih luas dan kompleks dibanding di negara sedang berkembang.

Secara umum dua defenisi JUB yang banyak digunakan yaitu : pendekatan transaksi yang memandang JUB adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk keperluan transakasi. Pendekatan ini banyak digunakan untuk menghitung JUB dalam arti sempit yang dikenal sebagai M1. Definisi lain didasarkan pada pendekatan likuiditas yang memandang JUB adalah jumlah uang untuk kebutuhan transaksi di tambah uang kuasi. Pendekatan ini digunakan untuk menghitung jumlah uang beredar dalam arti luas yang dikenal sebagai M2.

Jumlah uang beredar juga didefenisikan oleh beberapa orang yang mengatakan bahwa JUB merupakan tagihan masyarakat terhadapa sektor perbankan dan terbatas pada jumlah antara uang kartal dan uang giral ( Anton : 1991). Pengertian JUB lainnya adalah semua uang giral (demand deposit), tagihan pada bank umum, seluruh uang kertas dan uang logam (currency) yang dipegang oleh masyarakat yang ada diluar bank umum dan bank sentral ( Manullang : 1983). 

Selain M1 dan M2 juga ada yang disebut dengan M0 atau yang biasa disebut dengan uang inti, uang primer, reserve money, high power money, atau monetary base yang merupakan kewajiban dari otoritas moneter yang terdiri dari uang kertas dan uang logam yang berada diluar Bank Indonesia, serta simpanan Giro Bank Umum dan sektor swasta domestik (penduduk) pada Bank Indonesia.

Teori Permintaan Uang.
Pada umunya pandangan teori permintaan uang dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu teori-teori yang didasarkan pada ; (1) pandangan klasik, (2) teori permintaan uang Keynes, dan (3) teori kuantitas modern.

Pendekatan teori klasik oleh para ekonom beraliran klasik yang beranggapan bahwa permintaan uang murni didasarkan pada kebutuhan untuk melakukan transaksi (transaction view of money demand). Dari teori ini melahirkan kesimpulan bahwa permintaan uang untuk kebutuhan transaksi sangat tergantung pada tingkat pendapatan.

Dan kemudian oleh John Maynard Keynes domodifikasi dengan mengatakan bahwa terdapat biaya yang ditanggung oleh masyarakat dalam memegang uang. Biaya yang dimaksud dapat berupa biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (undirect cost).

Dijelaskan didalamnya bahwa biaya langsung dari memegang uang adalah pembayaran dengan nominal atau persentase tertentu dari nilai durable deposits yang dimiliki oleh seseorang sedangkan biaya tidak langsung merupakan opportunity cost dari memegang uang. Opportunity cost itu sendiri adalah biaya yang timbul dari berbagai alternatif pengalokasian aset, atau dengan kata lain terdapat potensi kehilangan pendapatan bunga jika seseorang menetapkan salah satu bentuk kekeyaan (Asset). Fakta diatas yang kemudian mendasari pandangan Keynes bahwa semakin tinggi tingkat bunga maka semakin rendah permintaan uang.

Pendekatan yang ketiga adalah modern quantity theory of money yang dipopulerkan oleh Milton Friedmen. Teori kuantitas modern menggabungkan antara pandangan klasik (Calssical view) dengan pandangan Keynes (Keynes’s view) dari permintaan uang.

Ketiga pendekatan di atas akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut : 

Teori Kuantitas Sederhana (The Simple Quantity Theory)
Teori kuantitas sederhana beranggapan bahwa motivasi utama masyarakat dalam memegang uang yaitu untuk keperluan transaksi. Teori ini didasarkan pada equation of exchange, identitas yang menghubungkan antara pengeluaran agregat dengan persediaan uang (Jansen : 2002).

Fisher berpendapat bahwa permintaan uang akan timbul dari penggunaan uang dalam proses transaksi, dimana setiap perekonomian ketika sesuai tahap pertumbuhannya akan memiliki sistem kelembagaan tersendiri yang menentukan sifat proses transaksi tersebut. Sistem ini mencakup beberapa faktor misalnya tingkat dari sektor-sektor ekonomi, keredit perdagangan, perbaikan dalam komunikasi, dan sistem jaringan perbankan.

Seperti yang dijelaskan di atas besar kecilnya perputaran uang transaksi ditentukan dari proses transaksi yang berlaku di masyarakat. Faktor kelembagaan, utamanya mekanisme pembayaran yang digunakan (tunai atau cek) akan mengalami perubahan secraa gradual dalam jangka panjang, sedangakan dalam jangka pendek kebutuhan akan uang relatif terhadap volume transaksi bisa dianggap konstan. Demikian pula volume transaksi relatif terhadap output masyarakat bisa dianggap mempunyai proporsi yang konstan dalam jangka pendek.

Teori Cambridge (Marshall-Pigou)
Teori Cambridge befokus pada fungsi uang sebagai alat tukar umum. Oleh karena itu, teori-teori klasik ini melihat permintaan uang dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat likuid untuk tujuan transaksi. 

Ketika Fisher mengatakan permintaan uang semata-mata merupakan proporsi konstan dari volume transaksi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kelembagaan yang konstan. Cambridge justru berpendepat faktor-faktor perilaku (pertimbangan untung rugi) yang menghubungkan antara permintaan uang seseorang dengan volume transaksi yang direncanakannya. Atau dengan kata lain, Fisher memandang velocity uang konstan sedangakan Cambridge tidak. 

Menurut teori Cambridge, permintaan uang selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor-faktor kelembagaan, juga dipengaruhi oleh bunga, dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi yang akan datang. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang seseorang dengan demikian juga akan mempengaruhi permintaan uang masyarakat secara keseluruhan. Kemudian Pigou melakukan berbagai penyederhanaan dimana variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan uang dalam jangaka pendek dianggap konstan.

Teori Cambridge menganggap bahwa permintaan uang adalah proporsional dengan tingkat pendapatan nasional (ceteris paribus). Dalam hal ini dia tidak menutup kemungkinan bahwa faktor-faktor seperti tingkat suku bunga dan ekspektasi berubah walaupun dalam jangka pendek.

Teori Uang dari Keynes
Ketika ekonomi klasik cenderung menekankan penggunaan uang dalam melakukan transaksi, Keynes mengidentifikasikan tiga motif memegang uang yaitu : motif bertransaksi, motif berjaga-jaga, dan motif berspekulasi. Seperti ekonom klasik, Keynes memandang memegang uang untuk transaksi proporsional dengan pendapatan.

Keynes juga sependapat dengan pemikiran Cambridge, dimana orang memegang uang untuk melancarkan proses transaksi yang dilakukan, dan permintaan uang masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional, semakin besar tingkat transaksi, maka semain besar pula jumlah uang yang diminta masyarakat untuk transaksi.

Selain itu, Keynes juga berpendapat bahwa permintaan uang untuk transaksi ini pun bukan merupakan suatu proporsi yang konstan, tapi juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Hanya saja faktor bunga dalam permintaan uang untuk transaksi ini tidak terlalu ditekankan, salah satu sebabnya adalah karena dia ingin menekankan permintaan uang untuk tujuan lain, yaitu tujuan spekulasi. Motif memegang uang untuk tujuan spekulasi terutama ditujukan untuk mendapatkan keuntungan.

Keynes membatasi keadaan dimana pemilik kekayaan bisa memilih memegang kekayaanya dalam bentuk tunai atau obligasi. Uang tunai dianggap tidak memberikan penghasilan, sedang obligasi dianggap memberikan penghasilan berupa sejumlah uang tertentu setiap periodenya. 

Teori Transaksi dari Permintaan Uang
Teori permintaan uang yang menekankan peran uang sebagai media pertukaran disebut teori transaksi (transaction theories). Teori ini menyatakan bahwa uang adalah aset yang didominasi dan menekankan bahwa orang memegang uang tidak seperti aset-aset lainnya, tapi untuk melakukan pembelian. Teori ini menjelaskan mengapa orang memegang uang dalam arti sempit (M1), seperti mata uang dan rekening cek, sebagai lawan dari memegang aset yang mendominasinya, seperti rekening tabungan dan Treasury bills.

Teori dari transaksi permintaan uang bermacam-macam, bergantung bagaimana orang memodelkan proses menghasilkan uang untuk melakukan transaksi. Seluruh teori ini mengasumsikan bahwa uang mempunyai biaya dari menerima tingkat pengambilan yang rendah dan manfaat yang membuat transaksi lebih aman. Orang-orang memutuskan berapa banyak uang yang akan dipegang dalam men-trade-off-kan biaya dan manfaat ini.

Pengembangan lebih lanjut dari teori transaksi dari permintaan uang adalah model menejemen kas Baumol-Tobin (the inventory approach to money demand), teori portofolio dari permintaan uang dari James Tobin (the portfolio approach to money demand) dan teori kuantitas modern dari Friedman.

Model Manajemen Kas Baumol-Tobin
Seperti teori kuantitas dan teori Cambridge, model ini juga menekankan pentingnya penggunaan uang untuk keperluan transaksi. Teori model ini juga memandang adanya direct dan inderect cost (biaya langsung dan biaya tidak langsung) memegang uang untuk tujuan transaksi dan bagaimana perubahan kedua biaya ini akan mempengaruhi permintaan uang (Jansen : 2002). Biaya langsung yaitu biaya perjalanan atau biaya mentransfer aset non moneter menjadi aset moneter sedangkan biaya tidak langsung yaitu jumlah bunga yang hilang.

Baumol dan Tobin mencapai kesimpulan yang serupa mengenai permintaan uang untuk transaksi. Baumol melihat bahwa kebutuhan akan uang untuk transaksi pada hakekatnya adalah sama dengan kebutuhan stok uang yang akan dipegang dengan pertimbangan biaya dengan memilih jumlah dan pola waktu untuk stok yang tepat agar biaya yang membebaninya minimal.

Model Baumol-Tobin menganalisa biaya dan manfaat dari memegang uang. Manfaatnya adalah kenyamanan; orang memegang uang agar mereka tidak perlu lagi ke bank setiap kali ingin membeli sesuatu. Biaya kenyamanan ini adalah hilangnya bunga yang akan mereka terima jika uang tersebut mereka simpan di bank.

Model ini bertitik tolak dari anggapan bahwa seseorang menerima pendapatan tertentu secara reguler setiap waktu, dan untuk penyederhanaan orang tersebut selalu membelanjakan sejumlah tertentu (tetap) setiap harinya. Dengan kata lain kebutuhuan uang tunai setiap per satuan waktu adalah konstan. Pemilik pendapatan tersebut juga dapat memilih memegang hasil pendapatannya dalam bentuk uang tunai atau obligasi.

Uang tunai dianggap tidak menghasilkan apapun, tapi dipegang karena bisa digunakan untuk transaksi. Sedangkan obligasi menghasilkan tingkat bunga, tapi bila ingin digunakan untuk transaksi harus terlebih dahulu ditukarkan kedalam bentuk uang tunai. Selanjutnya dianggap bahwa setiap kali menjual obligasi, ada biaya (tetap) yang dibebankan. Karena uang tunai tidak menghasilkan apapun, maka orang akan cenderung memegang pendapatan totalnya sebanyak mungkin dalam bentuk obligasi. Keputusan ini dilakukan dengan mempertimbangkan biaya yang paling menguntungkan. Biaya yang paling menguntungkan ini adalah dengan memilih nilai/jumlah obligasi yang akan dijual dengan tujuan memenuhi kebutuhan uang tunai untuk transaksi dalam jangka waktu tertentu yang akan menimbulkan biaya total dari pemegangan stok.

Teori Portofolio dari Permintaan Uang
Teori portofolio menekankan peran uang sebagai penyimpan nilai. Menurut teori ini, orang-orang memegang uang sebagai aset portofolio mereka. Teori portofolio memperdiksi bahwa permintaan uang seharusnya tergantung pada resiko dan hasil yang diberikan oleh uang dan oleh berbagai aset selain uang. Selain itu, permintaan uang seharusnya bergantung pada kekayaan total, karena kekayaan mengukur besarnya portofolio yang dialokasikan diantara uang dan aset alternatif. Fungsi permintaan uang dalam teori portofolio mengasumsikan permintaan uang bergantung pada pengembalian saham riil, pengembalian obligasi riil yang diharapkan, tingkat inflasi yang diharapkan, dan kekayaan riil.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, kenaikan dalam pengembalian saham riil dan pengembalian obligasi riil yang diharapakan menurunkan permintaan uang, kerena uang menjadi kurang menarik. Kenaikan dalam kekayaan riil meningkatkan permintaan uang, karena kekayaan yang lebih tinggi berarti portofolio yang lebih besar. 

Teori portofolio bermanfaat untuk mempelajari permintaan uang bergantung pada ukuran uang manakah yang kita gunakan. Ukuran uang yang paling sempit (M1) adalah aset yang didominasi (dominated assets); sebagai penyimpan nilai, uang eksis sepanjang aset-aset lain dalam kondisi lebih baik. Jadi, tidak optimal bagi orang-orang untuk memegang uang sebagai bagian dari portofolio mereka, dan teori portofolio tidak dapat menjelaskan permintaan terhadap bentuk uang yang didominasi ini. Ukuran uang yang lebih luas mencakup banyak aset yang mendominasi mata uang dan rekening cek, sehingga pendekatan portofolio terhadap permintaan uang merupakan teori yang baik untuk menjelaskan permintaan terhadap M2 atau M3 (Mankiw : 2000).

Teori Kuantitas Modern dari Friedman
Teori kuantitas modern dari permintaan uang di bangun berdasarkan teori kuantitas uang dengan menekankan kekhasan kepemilikan uang sebagai media pertukaran. Kekhasan ini karena memandang permintaan uang mirip permintaan akan suatu barang yang dipengaruhi oleh tiga hal yaitu; total kekayaan yang merupakan kendala anggaran (budget constraint) dalam perilaku konsumen, harga dari masing-masing bentuk kekayaan, serta selera dan preferensi (taste and preference) pemilik kekayaan (Jansen : 2002).

Teori kuantitas modern menekankan permintaan uang dari keuntungan dari proses subtitusi antar bentuk kekayaan seperti uang, obigasi, saham, surat berharga, dan bentuk kekayaan yang lain baik manusiawi maupun nonmanusiawi. Permintaan uang terhadap bentuk kekayaan di atas sangat dipengaruhi oleh hasil (return) yang akan diterima oleh pemilik kekayaan di masa yang akan datang.

Dalam teori permintaan uangnya, Friedman menganggap bahwa pemilik kekayaan memutuskan aktiva-aktiva apa yang akan dipegang atas dasar perbandingan manfaat, selera dan jumlah kekayaanya. Pengertian kekayaan dari Friedman tidak hanya berbentuk uang atau bisa diubah atau dijual menjadi uang, tetapi juga termasuk nilai dari aliran penghasilan ditahun-tahun mendatang dari tenaga kerjanya. Kekayaan tidak lain adalah nalai sekarang dari aliran penghasilan yang diharapakan dari aktiva-aktiva yang dipegang. Pengertian kedua yang penting adalah “manfaat”. Manfaat (returns) dari setiap bentuk aktiva merupakan faktor pertimbangan untuk memutuskan berapa jumlah dari masing-masing bantuk aktiva yang akan dipegang tersebut.

Dalam melakukan perumusan fungsi permintaan uang (permintaan total uang, Friedman tidak menganal pembagian motif memegang uang seperti Keynes), Friedman melakukan beberapa penyederhanaan. Ia menganggap pemilik kekayaan bisa memilih lima bentuk kekayaan untuk dipegang, yaitu: uang tunai, obligasi, saham atau equities, barang-barang fisik bukan manusia, dan kekayaan manusiawi / human capital.

Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regiona Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi satu wilayah. Pertumbuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya infrastruktur ekonomi. PDRB adalah jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan seluruh unit usaha dalam wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.

PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada suatu tahun tertentu sebagai tahun dasar hitungannya. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi, sedangkan harga konstan dapat digunkana untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Produk Domistik Regional Bruto (PDRB) dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) oleh masing-masing wilayah. BPS menghitung PDRB berdasarkan 3 (tiga) pendekatan yaitu : 
  • Pendekatan Produksi (Pruduction Approach) yaitu PDRB merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi dalam suatu wilayah / region pada suatu jangka waktu tertentu, biasanya setahun.
  • Pendekatan Pendapatan (Income Approach) yaitu PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut di dalam proses produksi di suatu wilayah pada jangka waktu tertentu (setahun). Balas jasa faktor produksi tersebut adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan. 
  • Pendapatan Pengeluaran (Expenditure Approach) yaitu PDRB merupakan jumlah semua pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, perubahan stok dan ekspor neto di suatu wilayah pada suatu periode (biasanya setahun). Ekspor neto disini adalah ekspor dikurangi impor.

Kuantitas uang dalam perekonomian sangat erat kaitannya dengan jumlah mata uang yang diperlukan dalam transakasi. Dalam penulisan skripsi ini, karena jumlah transaksi sulit diukur, maka jumlah transaksi diganti dengan output total dari perekonomian suatu wilayah atau daerah (PDRB). Transaksi dan output sangat berkaitan, karena semakin banyak perekonomian berproduksi, semakin banyak barang yang dibeli dan dijual. Namun demikian menurut Mankiw (2000) keduanya tidak sama. Ketika seseorang menjual mobil bekas untuk orang lain, misalnya, mereka melakukan transaksi dengan menggunakan uang, meskipun mobil bekas bukan bagian dari output sekarang.

Suku Bunga
Menurut Keynes (1936) suku bunga merupakan harga dari penggunaan uang. Sedangkan menurut Hubbard (1997), bunga adalah biaya yang harus dibayar atas pinjaman yang diterima dan imbalan atas investasinya. Suku bunga mempengaruhi keputusan individu terhadap pilahan membelanjakan uang lebih banyak atau menabung (Laksomono : 2001).

Para ekonom membagi tingkat suku bunga atas dua yaitu, tingkat bunga nominal (nominal interest rate) dan tingkat bunga riil (real interest rate). Para ekonom menyebutkan tingkat bunga yang dibayar bank sebagai tingkat bunga nominal dan kenaikan dalam daya beli Anda dengan tingkat bunga riil. Tingkat bunga nominal biasa juga disebut biaya peluang (opportunity cost) dari memegang uang: biaya yang timbul karena Anda lebih memilih suka memegang uang ketimbang obligasi.

Dapat juga di katakan bahwa tingkat bunga riil adalah perbedaan di antara tingkat bunga nominal dan tingkat inflasi. Kalau diatur kembali persamaan ini, dapat dilihat bahwa tingkat bunga nominal adalah jumlah tingkat bunga riil dan tingkat inflasi.

Menurut Fisher (Fisher Equation). Hal ini menunjukkan tingkat bunga bisa berubah karena dua alasan : karena tingkat bunga riil berubah atau karena tingkat inflasi berubah. Menurut persamaan Fisher di atas, kenaikan 1 persen dalam tingkat inflasi sebaliknya menyebabkan kenaikan 1 persen dalam tingkat bunga nominal. Hubungan satu-untuk-satu antara tingkat inflasi dan tingkat bunga nominal disebut efek Fisher (Fisher Effect) (Mankiw : 2003). 

Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadang kala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah IHK (Indeks Harga Konsumen) dan PDB/PDRB.

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

Hubungan antara Pendapatan, Suku Bunga Deposito dan Inflasi Terhadap Permintaan Uang
a. Pengaruh Pendapatan Regional (PDRB) Terhadap Permintaan Uang
Pada dasarnya pendapatan mencerminkan seberapa besar tingkat konsumsi seseorang. Biasanya semakin tinggi pendapatan seseorang, maka keinginannya untuk mengkonsumsi satu atau beberapa jenis barang juga akan semakin ikut meningkat.

Faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan uang dalam suatu wilayah antara lain pendapatan, nilai tukar, dan tingkat suku bunga (Boediono:1985). Pendapatan dan permintaan uang sangat berhubungan erat serta mempunyai sifat yang positif dan signifikan. Yang artinya ketika pendapatan mengalami kenaikan, maka permintaan akan uang juga akan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya permintaan untuk konsumsi di kalangan masyarakat.

Sama halnya dengan apa yang dikemukakan oleh para ekonom klasik dalam teori permintaan uang yang beranggapan bahwa permintaan uang murni didasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam transaksi. Anggapan ini memberikan kesimpulan bahwa permintaan uang untuk kebutuhan transaksi sangat tergantung pada tingkat pendapatan.

b. Pengaruh Tingkat Suku Bunga Deposito Terhadap Permintaan Uang 
Pada umunya orang-orang yang mempunyai pendapatan yang berlebih akan menyimpan uangnya pada pihak perbankan dalam bentuk deposito. Alasan tersebut dikarenakan adanya pendapatan yang akan diterima dari uang tersebut yaitu berupa bunga.

Bunga merupakan salah satu varibel makro dalam moneter yang selalu diamati oleh para pelaku ekonomi. Tinggi rendahnya suku bunga yang ditawarkan suatu pihak perbankan, maka akan mempengaruhi sifat para pelaku ekonomi. Sebagai salah satu contohnya ketika suku bunga mengalami kenaikan, orang-orang akan lebih memilih menyimpan uangnya di bank dibandingkan untuk menggunakannya sebagai konsumsi dan begitu pula sebaliknya. Akan ada yang dikorbankan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang mereka miliki.

Menurut Keynes faktor yang mempengaruhi besarnya permintaan uang dengan motif spekulasi adalah besarnya suku bunga, dividen surat-surat berharga, ataupun capital gain. Karena ketika seseorang memilih memegang uang, maka mereka akan mendapatkan oppurtunity cost dari memegang uang atau dengan kata lain terdapat potensi kehilangan pendapatan bunga jika seseorang menetapkan salah satu bentuk kekayaan (asset).


Dalam hubungannya dengan permintaan uang, suku bunga berpengaruh negatif. Hal ini dikarenakan ketika suku bunga meningkat, jumlah dari uang tunai yang dipegang untuk transaksi juga akan mengalami penurunan, karena orang akan lebih memilih melakukan saving untuk mendapatkan pendapatan lebih yaitu bunga.

c. Pengaruh Tingkat Inflasi Terhadap Permintaan Uang
Dalam perekonomian inflasi merupakan sesuatu yang harus selalu dipantau dan diwaspadai oleh semua pelaku ekonomi terutama Bank Indonesia. Besarnya kontribusi Inflasi dalam perekonomian menjadikannnya salah satu pilar dari pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Kenaikan dari angka inflasi akan manjadikan perekonomian berada dalam posisi yang genting apabila tidak ditopang dengan output atau pendatan dari wilayah tersebut.

Kaitan antara inflasi dan permintaan uang mempunyai hubungan yang sangat erat. Seseorang akan menjadikan inflasi sebagai motif spekulasi dari permintaan uang, yang artinya ketika seseorang memprediksikan angka inflasi akan mengalami kenaikan maka permintaan uangnya pun juga akan ikut naik. Hal ini di sebabkan kerena akan meningkatnya jumlah harga kebutuhan sehari-hari di pasaran.

Seperti yang dikatakan oleh Friedman dalam teori permintaan uangnya yaitu kecepatan permintaan dan peredaran uang di masyarakat tergantung dari faktor ekonomi yaitu suku bunga dan inflasi. Dimana hal tersebut dapat diartikan bahwa inflasi merupakan salah satu komponen moneter yang sangat erat hubungannya dengan permintaan uang, saat terjadi inflasi permintaan uang akan semakin meningkat, ini disebabkan karena kurangnya output produksi dari produsen yang mengakibatkan harga barang/jasa juga ikut naik. Oleh karena itu Bank Sentral selalu berusaha mempertahankan tingkat inflasi dalam tingkat yang normal agar tidak berdampak buruk juga pada veribel ekonomi makro lainnya.

Tinjauan Empiris
Spencer (1985) melakukan penelitian tentang stabilitas parameter permintaan uang di Indonesia menggunakan data kuartalan tahun 1967-1981. Kajian tersebut menggunakan data uang dalam arti sempit (M1) dan luas (M2), pendapatan (PDB), tingkat bunga dan jumlah kantor bank. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa koefisien parameter permintaan uang M1 tidak stabil karena penambahan jumlah kantor telah menyebabkan kanaikan elastisitas permintaan uang sedangkan elastisitas tingkat bunga mengalami penurunan.

Effendi dan Aliasuddin (1998) juga telah melakukan penelitian empiris tentang stabilitas permintaan uang di Indonesia dengan menggunakan data tahunan dari 1971 hingga 1996. Hasilnya, parameter permintaan uang pada periode tersebut stabil. Namun kajian tersebut kurang konsisten dengan nilai elastisitas yang saling berbeda-beda untuk masing-masing periode penelitian. Hal tersebut disebabkan oleh pelanggaran asumsi klasik dalam model estimasi yang digunakan. Ada dua pelanggaran yang dijumpai dalam model tersebut yaitu multikolinearitas dan heteroskedastisitas.

Astiyah (2002) mengkaji perilaku permintaan uang dan implikasinya bagi kebijakan moneter di Indonesia. Dari berbgai definisi uang beredar, Astiyah menemukan bahwa hubungan antara uang beredar (M1 dan M2) dengan sasaran akhir inflasi semakin tidak stabil. Bahkan untuk uang primer telah menjadi variabel yang endogen, dalam arti dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan infalsi, dan karenaya sulit dikendalikan. Hanya permintaan uang kartal (kertas dan logam) secara riil yang relatif stabil. 

Berbeda dengan penelitian sebelumnya penulis mencoba menulis dalam ruang lingkup yang lebih kecil yaitu Sulawesi Selatan tapi tetap dengan variabel yang sama. Dalam skripsi ini penulis mengasumsikan penawaran uang sama dengan permintaan uang, kemudian karena jumlah transaksi sulit diukur, maka jumlah transaksi diganti dengan output total dari perekonomian di Sulawesi Selatan (GDRP) mengingat transaksi sangat berkaitan dengan output meskipun tak serupa.

Sejarah Singkat Dan Perkembangan Pasar Modal Indonesia

Sejarah Singkat Dan Perkembangan Pasar Modal Indonesia 
Pasar modal Indonesia didirikan pada tahun 1900-an ketika Indonesia dijajah Belanda. Kemudian pasar modal Indonesia mengalami pasang surut, sempat mengalami pasang surut pada masa orde lama. Perkembangan pasar modal Indonesia pada masa orde baru dimulai 10 Agustus 1977 ketika pasar modal Indonesia diaktifkan kembali oleh pemerintah, bapepam dan PT. Dana Reksa. Akan tetapi, pasar modal Indonesia baru berkembang dengan pesat setelah pemerintah melakukan deregulasi pada pasar modal dan perbankan dengan mengeluarkan Pakto 1988. Hal ini terus berlangsung sampai tahun 1997 ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia.

Pasar modal Indonesia mulai bangkit pada tahun 2002 yang ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 8% setelah mengalami penurunan sebesar 6% pada tahun 2001 dan 39% pada tahun 2000. Setelah itu pasar modal Indonesia terus berkembang dengan cukup baik, puncaknya pada tanggal 9 Januari 2008 dimana IHSG mencacat rekor tertinggi nya pada level 2.830,26. Akan tetapi krisis ekonomi global yang disertai dengan penurunan harga minyak membawa dampak buruk terhadap pasar modal Indonesia, hal ini menyebabkan pasar modal Indonesia ditutup pada level 1,355.41 di akhir tahun 2008 atau turun 51% dari penutupan akhir 2007. Membaiknya kondisi perekonomian Indonesia yang disertai dengan kondisi politik yang kondusif setelah pemilu 2009 mampu membuat pasar modal Indonesia untuk kembali pada level 2000, terakhir pada penutupan 18 Desember IHSG ditutup pada level 2,509.58

Berikut ini adalah grafik pergerakan IHSG dari Januari 2004 sampai 8 Desember 2009.

Grafik  Perkembangan IHSG 2004 – 2009 

Berikut ini adalah data statistik Bursa Efek Indonesia dari tahun 2004 sampai 2009.

Tabel  Statistik pasar modal Indonesia 2004 – 2009

Analisis Fundamental (Makro) Ekonomi 
1. Produk Domestik Bruto (PDB)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2009 mencapai 2,3 persen dibanding triwulan I-2009 (q-to-q) dan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 mengalami pertumbuhan 4,0 persen (y-on-y). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2009 dibandingkan dengan semester I-2008 tumbuh sebesar 4,2 persen. Besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2009 mencapai Rp1.365,5 triliun, 

Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi (q-to-q) adalah Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 8,1 persen, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 4,7 persen dan Sektor Pertanian 3,5 persen. Sementara untuk pertumbuhan (y-on-y) Sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh 17,5 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air bersih 15,4 persen dan Sektor Jasa-jasa 7,4 persen.

Struktur PDB triwulan II-2009 masih didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan, Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran masing-masing memberikan kontribusi sebesar 26,6 persen, 15,6 persen dan 13,3 persen.

Pertumbuhan PDB pada triwulan II-2009 dibandingkan dengan triwulan I-2009 (q-to-q) sebesar 2,3 persen ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat sebesar 0,2 persen, sementara pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 23,7 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,4 persen, ekspor barang dan jasa 7,4 persen, serta impor barang dan jasa 7,8 persen.

Dibandingkan dengan triwulan II-2008 (y-on-y), pertumbuhan ekonomi tumbuh 4,0 persen didukung pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,8 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 17,0 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,7 persen. Namun, lain halnya dengan ekspor dan impor barang dan jasa yang menurun masing-masing sebesar 15,7 persen, serta impor barang dan jasa 23,9 persen.

Pertumbuhan ekonomi semester I-2009 terhadap semester I-2008 (c-to-c) sebesar 4,2 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan Sektor Pertanian sebesar 3,7 persen, Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 2,4 persen, Sektor Industri Pengolahan 1,5 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 13,4 persen, Sektor Konstruksi 6,3 persen, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 0,2 persen, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 17,3 persen, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 5,8 persen serta Sektor Jasa-jasa 7,1 persen.

Untuk semester kedua tahun 2009 pertumbuhan ekonomi diprediksikan sebesar 4.5% atau mengalami peningkatan 0.3% dari pertumbuhan ekonomi semester I 2009. Dalam penyusunan APBN untuk tahun 2010 pemerintah memprediksikan PDB Indonesia sebesar Rp 5,981.4 Trilliun dengan pertumbuhan ekonomi 5.5%. 

Dari data diatas bisa kita simpulkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia sudah mulai bangkit setelah sempat mengalami penurunan pada akhir tahun 2008 dan awal 2009. Perekonomian Indonesia juga diharapkan akan terus tumbuh dan berkembang hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7% pertahun pada tahun 2014 (target Kabinet Indonesia Bersatu II). 

Kondisi perekonomian ini akan membuat sektor riil untuk berkembang dan tumbuh, perusahaan akan melakukan ekspansi bisnis dan para investor akan kembali melakukan investasi setelah sebelumnya mereka menahan investasi. Pertumbuhan yang tinggi juga akan membuat peningkatan pendapatan masyarakat sehingga bisa membuat konsumsi rumah tangga semakin meningkat. Untuk pasar modal kondisi ini menguntungkan karena akan membuat pasar modal kembali bergairah dan diharapkan akan membuat nilai IHSG untuk terus naik.

2. Siklus Bisnis
Siklus bisnis merefleksikan pergerakan aktivitas ekonomi secara menyeluruh yang menyatukan banyak bagian aktivitas ekonomi yang terpisah. Hubungan antara ekonomi dan pasar modal saham adalah sebagai berikut: harga saham yang tercermin dari Composite Index atau jika di Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum merupakan leading indicator ekonomi suatu negara. 

Dari data perdagangan saham di bursa efek kita mengetahui bahwa IHSG pada tanggal 31 Oktober 2009 ditutup pada level 2,367.70 atau meningkat 74.68% bila dibandingkan dengan titik terendah pada akhir tahun 2008 yaitu pada level 1,355.41. Berdasarkan data diatas bisa kita simpulkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sedang mengalami pertumbuhan setelah terkena imbas dari krisis ekonomi global.

3. Suku Bunga
Tingkat suku bunga bisa menjadi salah satu acuan kondisi ekonomi. Tingkat suku bunga yang tinggi akan menghambat bergeraknya sektor riil, sebaliknya sektor riil akan bergairah saat suku bunga rendah.

Tingkat suku bunga acuan di Indonesia (SBI) sekarang adalah 6.5% atau sudah turun bila dibandingkan dengan SBI beberapa bulan lalu yang mencapai 8.5%. Turunnya SBI mendorong turun nya suku bunga kredit dan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), ketika SBI berada di atas 8.5% suku bunga kredit dan KPR berada di atas 14%, tetapi dengan penurunan suku bunga kredit sampai pada level 6.5% membuat suku bunga kredit dan KPR turun di kisaran 12%. Turunnya suku bunga kredit dan KPR akan sangat membantu sektor riil yang akan meminjam dana untuk melakukan ekspansi bisnis atau masyarakat yang ingin membeli rumah. Sehingga akan membuat sektor riil dan sektor property kembali bergairah.

Di sisi lain turunnya SBI juga membuat turunnya suku bunga deposito menurun, turunnya suku bunga deposito (sekarang rata-rata 8%) akan membuat para investor untuk menarik dana yang diinvestasikan ke deposito untuk diinvestasikan ke pasar saham, sehingga akan membuat harga saham kembali naik.

Dalam penyusunan APBN untuk tahun 2010 pemerintah memprediksikan SBI adalah sebesar 6.5% atau pada sama dengan SBI pada akhir 2009, tetapi para analis memprediksikan bahwa SBI akan dinaikkan untuk mengantisipasi naiknya inflasi karena membaiknya kondisi perekonomian Indonesia. 

Inflasi
Tingkat Inflasi cukup berpengaruh terhadap harga saham dengan hubungan yang terbalik. Harga saham akan naik jika inflasi rendah, dan sebaliknya harga saham cenderun turun saat inflasi tinggi.

Sampai bulan Oktober inflasi Indonesia untuk tahun 2009 mencapai 2.84% dan diperkirakan inflasi pada tahun 2009 berada pada level 4 – 4.5%. Inflasi yang rendah ini dikarenakan turunnya kegiatan perekonomian kita karena dampak dari krisis ekonomi global. Dalam penyusunan APBN untuk tahun 2010 pemerintah memprediksikan inflasi pada tahun 2010 sebesar 5%, nilai ini menunjukkan bahwa pekonomian Indonesia sudah bangkit sehingga membuat konsumsi meningkat sehingga membuat harga naik. Dengan inflasi yang rendah ini diprediksikan harga saham akan terus naik pada tahun 2010.

Kurs
Untuk di Indonesia, penguatan nilai mata uang utama dunia (US Dollar), akan mendorong investor besar untuk mengalihkan investasinya ke mata uang tersebut yang pada akhirnya mendorong penjualan saham sehingga harga saham turun. 

Seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi di Amerika, nilai US Dollar terhadap Rupiah mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Sempat mencapai 11,000 per USD hingga 9,400 per USD. Tetapi dalam jangka panjang diprediksikan nilai USD akan menurun. 

Fluktuasi nilai tukar USD berpengaruh kepada pasar modal, tetapi dengan penurunan USD di masa yang akan datang akan membuat para investor akan mengalihkan dana investasinya ke pasar modal.

Rencana Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu II
Pemerintah yang baru saja terbentuk dan dilantik sudah menyusun rencana kerja untuk lima tahun kedepan. Berikut adalah beberapa rencana pemerintah yang berkaitan dengan bidang ekonomi:
1. Pertumbuhan ekonomi sebesar 7% pada tahun 2014.
2. Menurunkan angka pengganguran.
3. Memperbaiki infrastruktur.
4. Proyek listrik satu juta megawatt.
5. Menghapus mafia peradilan.

Rencana-rencana tersebut jika bisa dilaksanakan dengan baik maka akan berpengaruh kepada sektor riil dan akan mendorong kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain juga akan mendorong para investor untuk melakukan investasi ke beberapa sektor yang menjadi perhatian utama pemerintah.

Harga Minyak Dunia
Harga minyak dunia juga merupakan salah satu faktor ekonomi yang bisa mempengaruhi arah pasar saham. Semakin tinggi harga minyak dunia maka akan menyebabkan harga saham pertambangan dan energi di Indonesia akan naik dan akan membuat IHSG terangkat seperti yang terjadi pada semester pertama 2008, ketika harga minyak dunia menembus level 100 USD per barel IHSG mencapai titik tertingginya. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak turun pada level 40 USD per barel, IHSG mencapai titik terendahnya.

Pada semester kedua ini harga minyak dunia sudah berada pada level 80 USD per barel, naiknya harga saham ini disebabkan naiknya permintaan yang didorong oleh membaiknya kondisi ekonomi dunia dan persiapan menjelang musim dingin di Eropa dan Amerika. Harga minyak dunia diprediksikan pada tahun 2010 akan berada level 80 USD perbarel dan masih ada kemungkinan untuk naik. Harga ini di satu sisi akan membuat harga saham kita untuk naik, tetapi disisi lain juga akan membuat pemerintah menaikkan kembali harga bahan bakar minyak (BBM) karena tingginya jumlah subsidi yang harus ditanggung pemerintah jika harga minyak terus 80 USD per barel. Apalagi asumsi harga minyak yang digunakan pemerintah dalam menyusun APBN 2010 adalah sebesar 65 USD per barel.

Analisis Sektor Industri
1.  Kondisi Umum Sektor Industri Indonesia
Kondisi perekonomian Indonesia yang sedang memasuki fase recovery dari efek krisis global membuat beberapa sektor industri bisa berkembang lebih cepat dari sektor industri yang lain.

Sektor industri yang stabil seperti consumer goods dan retail masih akan berkembang dengan baik seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya konsumsi masyarakat. Selain itu pertumbuhan konsumsi juga akan mendorong industri keuangan dan telekomunikasi semakin bergairah.

Membaiknya kondisi perekonomian dunia juga akan mendorong peningkatan kegiatan produksi dan konsumsi energi sehingga membuat sektor pertambangan, energy dan perkebunan untuk terus tumbuh. 

Program kerja kabinet Indonesia Bersatu II untuk membangun infrastruktur Indonesia akan membuat industri semen,properti, konstruksi, transportasi dan jalan tol tumbuh. 

Semakin meningkatnya persaingan dari China dan India akan membuat industri tekstil dan garmen semakin lemah, sedangkan peningkatan regulasi terhadap rokok akan membuat industri rokok tidak begitu bagus di masa depan.

2. Sektor Properti Indonesia
Sektor properti adalah salah satu sektor industri yang paling tua di Indonesia, pemain yang bermain dalam sektor ini cukup banyak mulai dari pemain tingkat internasional sampai pemain lokal kecil-kecilan. Di Industri ini setidaknya ada 104 usaha yang terkait satu sama lain mulai dari industri semen, tukang batu, perbankan hingga kontraktor.

Bisnis pada sektor properti muncul dari kebutuhan masyarakat untuk rumah dan tempat berusaha, hal ini didukung fakta bahwa terdapat kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan (back log) rumah yang saat ini sudah mencapai 7,9 juta. 

Tingginya permintaan terhadap properti menjadi salah satu hal yang membuat sektor ini masih mempunyai prospek yang sangat bagus di masa yang akan datang, apalagi didukung dengan penurunan suku bunga KPR yang akan membantu konsumen dalam pendanaan pembelian rumah. 

Bisnis properti yang membutuhkan banyak modal membuat banyak pengembang yang membutuhkan dana, salah satu sumber pendanaan yang ada adalah menjual saham di pasar modal Indonesia. Hingga saat ini lebih dari 45 perusahaan sektor industri properti yang sudah menjual saham di pasar modal Indonesia, harga saham perusahaan properti dan real estat tergabung dalam indeks sektor properti dan real estat. Berikut adalah grafik pergerakan sektor properti dan real estat dari Januari 1996 sampai Desember 2008: 

Grafik Pergerakan Indeks Sektor Properti 1996 -2008

Dari grafik diatas kita bisa melihat bahwa indeks properti dan real estate mencapai puncak pada awal tahun 2008 bersamaan dengan tercapainya rekor tertinggi IHSG, kemudian menurun sampai pada level 103.49 pada akhir tahun 2008 dan pada 30 Oktober 2009 ditutup pada level 153.99. Bila dibandingkan dengan sektor industri yang lain maka nilai sektor industri properti lebih rendah daripada sektor yang lain.

Prospek Sektor Properti Indonesia di Masa Depan
Apabila dilihat dari sisi permintaan maka sektor properti masih mempunyai prospek yang cukup bagus di masa depan hal ini tercermin dari tingginya nilai back log sebesar 7,9 Juta rumah. Membaiknya kondisi ekonomi Indonesia dan dunia juga akan membuat konsumen untuk kembali membelanjakan uangnya untuk membeli properti baru, disamping itu turunnya suku bunga juga akan mendorong turunnya KPR yang akan membuat para konsumen untuk berani membeli rumah dengan menggunakan pinjaman. 

Program pemerintah yang baru terbentuk untuk memperbaiki infrasktruktur dan listrik yang ada juga merupakan salah satu stimulus yang akan mendorong sektor industri ini berkembang di masa yang akan datang, ditambah dengan program 1 juta menara yang diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah juga akan mengairahkan bisnis di sektor ini. 

Akan tetapi juga terdapat hambatan yang akan menghambat perkembangan sektor ini, diantaranya regulasi yang masih terlalu ketat untuk kepemilikan asing terhadap properti di Indonesia membuat para investor asing masih enggan untuk memiliki properti di Indonesia. Kemudian masalah birokrasi yang lama dan masih diwarnai dengan praktik KKN membuat para pengembang tidak bisa dengan mudah untuk melakukan ekspansi bisnisnya. Terakhir adalah masalah pembebasan tanah yang cukup rumit dan pelik, sehingga membuat para pengembang susah untuk memulai pembangunan di tempat yang baru.

Analisis Fundamental PT Jakarta International Hotels & Development Tbk 
1. Sejarah PT Jakarta International Hotels & Development Tbk
PT Jakarta International Hotels & Development Tbk didirikan pada bulan November 1969, pada tahun 1974 perusahaan ini menyelesaikan konstruksi Hotel Borobudur Jakarta. Perusahaan ini melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1984 dan termasuk sebagai 24 perusahaan pertama yang listing di Indonesia. 

Pada tahun 1984 perusahaan melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya, hingga saat ini jumlah saham perusahaan yang ditempatkan dan disetor penuh berjumlah 1.930.039.200 lembar saham. Informasi historis mengenai saham Perusahaan yang dicatatkan di bursa adalah sebagai berikut:

Pada tahun 1991, perusahaan mengakuisisi PT Danayasa Arthatama, pemilik dan developer pertama Sudirman Central Business District (SCBD). Akuisisi ini telah merubah status perusahaan dari pemilik satu hotel ke berbagai macam pengembangan property, mulai dari gedung komersial, tempat perbelanjaan, residential dan serviced apartments.

Profil Singkat Anak Perusahaan Perusahaan
Struktur Perusahaan PT Jakarta International Hotels & Development Tbk:

Tabel Struktur Perusahaan

Gambar Kawasan Niaga Terpadu Sudirman

Adalah misi DA untuk menghasilkan produk-produk property berkualitas yang memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham, dan masing-masing produk dibuat untuk memenuhi kebutuhan para investor, penyewa gedung, dan penghuni residensial.

Strategi utama DA dalam menghadapi para pesaingnya terletak pada keunggulan lokasi, kualitas dan desain produk, sehingga pada akhirnya akan memberikan keuntungan investasi bagi para investor, serta menempatkan DA pada posisi terbaik diantara pemain properti utama lainnya.

Pengertian Dan Perumusan Siklus Pengeluaran

Pengertian Dan Perumusan Siklus Pengeluaran 
Siklus pengeluaran adalah rangkaian kegiatan bisnis dan operasional pemrosesan data terkait yang berhubungan dengan pembelian serta pembayaran barang dan jasa. Pada bab ini, siklus pengeluaran lebih berfokus pada perolehan bahan baku mentah, barang jadi, pasokan dan jasa, serta mebahas dua jenis khusus lainnya dari pengeluaran akuisisi aktiva tetap dan juga jasa tenaga kerja. 

Di dalam siklus pengeluaran, pertukaran informasi utama adalah dengan pemasok barang (vendor). Di dalam organisasi, informasi mengalir ke siklus pengeluaran dari siklus pendapatan dan produksi, pengendalian persediaan, dan berbagai departemen tentang kebutuhan untuk membeli barang dan bahan baku. Begitu barang dan bahan baku tiba, pemberitahuan penerimaannya mengalir kembali ke sumber-sumber tersebut dari siklus pengeluaran. Data mengenai biaya juga mengalir dari siklus pengeluaran ke buku besar dan ke fungsi pelaporan untuk dimasukkan ke dalam laporan keuangan serta berbagai laporan manajemen lainnya.

Tujuan utama dalam siklus pengeluaran adalah untuk meminimalkan biaya total memperoleh dam memelihara persediaan, perlengkapan, dan berbagai layanan yang dibutuhkan organisasi untuk berfungsi. Sebagai tambahan, pihak manajemen harus mampu mengawasi dan mengevaluasi efisiensi serta efektivitas proses siklus pengeluaran, yang membutuhkan kemudian akses ke data terinci mengenai sumber daya yang di gunakan dalam siklus pengeluaran, kegiatan yang mempengaruhi sumber daya tersebut, serta pelaku yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya, agar dapat berguna dan relevan untuk pengambilan keputusan, data harus akurat, andal, dan tepat waktu. 

Pada bab ini juga, kita mempelajari tiga fungsi dasar SIA dalam siklus pengeluaran ; memperoleh dan memproses data mengenai berbagai aktivitas bisnis, menyimpan dan mengatur data untuk mendukung pengembilan keputusan, serta menyediakan fungsi pengendalian untuk memastikan keandalan data dan penjagaan atas sumber daya organisasi

Pengertian Siklus Pengeluaran (Menurut Marshall B Roomney):
Siklus pengeluaran adalah rangkaian kegiatan bisnis dan operasional pemrosesan data terkait yang berhubungan dengan pembelian serta pembayaran barang dan jasa. Tujuan utama dalam sistem pengeluaran adalah untuk meminimalkan biaya total memperoleh dan memelihara persediaan, perlengkapan, dan berbagai layanan yang dibutuhkan organisasi untuk berfungsi.

Tiga fungsi dasar SIA dalam siklus pengeluaran:
  • Memperoleh dan memproses data mengenai berbagai aktivitas bisnis 
  • Menyimpan dan mengatur data untuk mendukung pengambilan keputusan
  • Menyediakan fungsi pengendalian untuk memastikan keandalan data dan penjagaan atas sumber daya organisasi

Sistem Pemrosesan Pembelian

Diagram arus data menurut james Hall tersebut merupakan gambaran umum berbagai aktivitas terkait yang membentuk sistem pemrosesan pembelian yang mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Fungsi pembelian dimulai dengan mengenali kebutuhan untuk menambah persediaan kembali melalui observasi catatan persediaan. Tingkat persediaan turun karena penjualan langsung ke pelanggan (aktivitas siklus pendapatan) atau transfer ke proses manufaktur (aktivitas siklus konversi). Informasi kebutuhan persediaan dikirim ke proses pembelian dan utang usaha.

2. Proses pembelian menentukan jumlah yang akan dipesan , memilih memasok dan membuat pesanan pembelian. Informasi tersebut dikirimkan ke pemasok dan proses utang usaha.

3. Setelah beberapa waktu, perusahaan akan menerima barang persediaan dari pemasok. Barang yang diterima akan diperiksa kualitas dan jumlahnya serta dikirim ke toko atau gudang.

4. Informasi mengenai penerimaan barang digunakan untuk memperbaiki catatan persediaan.

5. Proses utang usaha menerima faktur dari pemasok. Utang usaha akan merekonsilliasinya dengan informasi lain yang telah dikumpulkan untuk transaksi tersebut dan ccatatan kewajiban membayar di masa mendatang, tergantung dari syarat perdagangan dengan pemasok. Biasanya, pembayaran akan dilakukan paling tidak hari terakhir yang disyaratkan untuk mendapatkan keuntungan penuh dari bunga yang dihasilkan dan diskon yang ditawarkan.

6. Buku besar menerima informasi ringkasan dari utang usaha (kenaikan total dalam kewajiban) dan pengendali persediaan (kenaikan total dalam persediaan). Informasi ini direkonsiliasi akurasinya dan dicatat ke akun utang usaha serta akun pengendali persediaan.

Sistem Manual

Menurut James Hall, terdapat 6 departemen yang terlibat dalam sistem pembelian manual, yaitu:

1. Pengendali persediaan
Departemen ini mengurangi persediaan perusahaan dengan mentransfer bahan baku ke dalam proses produksi (siklus konversi) dan menjual barang jasi ke pelanggan (siklus pendapatan). Pengendali persediaan mengawasi dan mencatat tingkat persediaan barang jadi, ketika saatnya pemesanan ulang staf administrasi akan membuat permintaan pembelian. Satu salinan permintaan pembelian akan dikirim ke departemen pembelian, dan satu salinan lainnya dikirim ke utang usaha dan disimpan di ke dalam file tunda utang usaha. Staf administrasi pengendali persediaan menyimpan salinan terakhir tersebut dalam file permintaan pembelian terbuka (file open purchase requisition).

2. Departemen persediaan
Bertugas untuk menerima permintaan pembelian, menyortirnya berdasarkan nama pemasok jika perlu, dan membuat pesanan pembelian(purchase order-PO). Ketika perusahaan membuat pesanan pembelian maka PO dibuat menjadi beberapa salinan. Satu salinan PO dikirimkan ke pengendali persediaan yang selanjutnya disimpan bersama permintaan pembelian terbuka. salinan berikutnya dikirim ke utang usaha untuk disimpan dalam file utang usaha tunda. Satu salina (salinan kosong) dikirim ke bagian penerimaan, tempat file itu akan disimpan hingga saat persediaan tiba. Dua dari salinan PO tersebut akan dikirim ke pemasok. Staf administrasi bagian pembelian akan menyimpan salinan terakhir bersama dengan permintaan pembelian dalam file pesanan pembelian terbuka (open purchase order file).

3. Bagian Penerimaan
Pada saat perusahaan mengalami waktu tunggu antara memasukkan pesanan dengan menerima persediaan, berbagai salinan PO berada di file sementara di berbagai departemen sehingga tidak ada kegiatan ekonomi yang terjadi sampai perusahaan menerima persediaan, oleh karena itu tidak ada kewajiban finansial yang timbul.

! Penerimaan persediaan : barang yang tiba dari pemasok di rekonsiliasi dengan salinan kosong PO. Salinan kosong (blind copy) tidak berisi informasi jumlah atau harga produk yang diterima, tujuannya adalah untuk memaksa staf administrasi bagian penerimaan menghiting dan memeriksa persediaan dalam mengisi laporan penerimaan.

! Pembuatan laporan penerimaan : setelah melengkapi jumlah fisik dan menyelesaikan pemeriksaan, staf administrasi bagian penerimaan membuat laporan penerimaan yang menyatakan jumlah dan kondisi persediaan tersebut.

4. Bagian utang usaha
Pada proses di departemen ini perusahaan mungkin tidak memiliki informasi finansialo yang dibutuhkan untuk mencatat transaksi-transaksinya. Dokumen formal yang menyediakan informasi tersebut adalah faktur pemasok (supplier’s invoice). Jika perusahaan belum menerima faktur, perusahaan akan menunda pencatatan kewajiban hingga faktur tiba. 

5. Bagian buku besar
Bagian buku besar menerima voucher jurnal dari bagian utang usaha dan sebuah ringkasan akun dari bagian pengendalian persediaan. Staf admministrasi bagian buku besar mencatat dari voucher jurnal ke akun pengendali persediaan dan utang usaha serta merekonsiliasi akun pengendali persediaan serta ringkasan buku pembantu persediaan. Tahap pembelian dalam siklus pengeluaran selesai.

Sistem Pengeluaran Kas

Sistem pengeluaran kas memproses pembayaran berbagai kewajiban yang timbul dari sistem pembelian. Dengan tujuan untuk memastikan bahwa kreditor yang valid menerima jumlah terutang yang benar ketika kewajiban jatuh tempo. 

seperti yang dilihat fari diagram arus data diatas sistem ini terdiri atas 3 proses, yaitu:
1. Proses utang usaha meninjau file utang usaha mengenai bverbagai dokumen yang jatuh tempo dan mengotorisasi proses pengeluaran kas untuk melakukan pembayaran.
2. Proses pengeluaran kas membuat dan mendistribusikan cek ke para pemasok. salinan dari berbagai cek tersebut akan dikembalikan ke bagian utang usaha sebagai bukti bahwa kewajiban telah dibayar, dan akun utang usaha akan diperbarui untuk menyingkirkan kewajiban tersebut.
3. Pada akhir periode, baik proses pengeluaran kas maupun utang usaha mengirim informasi ringkasan ke buku besar. Informasi tersebut direkonsiliasi dan dicatat ke akun pengendali kas serta utang usaha.

sistem manual pengeluaran kas


1. Bagian utang usaha 
Proses pengeluaran kas dimulai dalam bagian utang usaha. Staf administrasi bagian utang usaha meninjau file voucher utang terbuka atau utang usaha untuk melihat berbagai dokumen yang jatuh tempo dan mengirim voucher serta dokumen pendukungnya (permintaan, pembelian, pesanan pembelian, laporan penerimaan, dan faktur) ke bagian pengeluaran kas.

2. Bagian pengeluaran kas
Staf administrasi bagian pengeluaran kas menerima paket voucher dan meninjau berbagai dokumen untuk melihat kelengkapan dan akurasi administratifnya. Untuk tiap pengeluaran, staf administrasi tersebut membuat cek tiga salinan dan mencatat nomor cek, jumlah uangnya, nomor voucher, serta data lain yang terkait dalam daftar cek yang juga disebut jurnal pengeluaran kas.

3. Bagian buku besar
Staf administrasi bagian buku besar menerima voucher jurnal pengeluaran kas dan ikhtisar akun dari bagian utang usaha. Angka dalam voucher menunjukkan pengurangan total dalam kewajiban perusahaan dan akun kas sebagai akibat dari pembayaran ke pemasok. staf administrasi bagian buku besar mencatat ke akun pengendali utang usahadan akun kas dalam buku besar serta merekonsiliasi akun pengendali utang usaha dengan iktisar buku pembantu utang usaha. Pekerjaan ini mengakhiri prosedur pengeluaran kas.

Poin Penting Dalam Siklus Pengeluaran
Pengendalian internal utama dalam siklus pengeluaran berdasarkan prosedur pengendalian yang dispesifikasikan dalam SAS 78, yaitu:
AKTIVITAS PENGENDALIAN
SISTEM PEMROSESAN PEMBELIAN
SSISTEM PENGELUARAN KAS
Otorisasi Transaksi
Pengendalian persediaan
Bagian utang usaha mengotorisasi pembayaran
Pemisahan Pekerjaan
Pengendalian persediaan dipisahkan dari bagian pembelian dan penyimpanan persediaa. Buku besar utang usaha terpisah dari buku besar
Pisahkan bagian buku besar pembantu utang usaha, pengeluaran kas, dan buku besar.
Supervisi
Bagian penerimaan

Catatan Akuntansi
Buku pembantu utang usaha, buku besar, file permintaan pemmbelian, file pesanan pembelian, file laporan penerimaan.
File voucher utang, buku pembantu utang usaha, jurnal pengeluaran kas, akun kas di buku besar.
Akses
Keamanan fisik aktiva. Batasi akses hanya ke catatan akuntansi di atas
Keamanan yang memadai atas kas. Batasi akses ke berbagai catatan akuntansi diatas.
Verifikasi independen
Bagian utang dengan merekonsiliasi berbagai dokumen sumber sebelum mencatat kewajiban. Bagian buku besar merekonsiliasi akurasi umum proses tersebut.
Peninjauan akhir oleh bagian pengeluaran kas. Rekonsiliasi keseluruhan oleh bagian buku besar. Rekonsiliasi bank secara berkala oleh kontroler.

Otomatisasi Prosedur Pembelian dengan Menggunakan Teknologi Pemrosesan Batch

Tahap 1 
Bagian Pemrosesan Data
Proses pembelian dimulai dalam bagian pemrosesan data, dengan dijalankannya fungsi pengendalian persediaan. Ketika persediaan berkurang karena penjualan ke pelanggan atau penggunaan dalam produksi, sistem akan menentukan apakah barang yang di dalam file buku besar pembantu persediaan (inventory subsidiary file) telah jatuh ke dalam titik pemesanan ulangnya. Jika demikian, maka akan dibuat catatan dalam file permintaan terbuka. tiap catatan dalam file permintaan terbuka menentukan barang persediaan yang berbeda yang akan diisi kembali. Informasi yang dibutuhkan untuk membuat catatan permintaan dipilih dari catatan buku pembantu persediaan yang kemudian akan ditandai “sedang dipesan” untuk mencegah barang tersebut dipesan kembali sebelum barang datang. Pada akhir kerja, sistem akan menyortir berbagai file permintaan terbuka berdasarkan nomor pemasok dan mengonsolidasikan beberapa barang dari pemasok yang sama ke satu permintaan. Kemudian, informasi surat-menyurat pemasok akan ditarik dari file pemasok yang valid (valid vendor file) untuk membuat dokumen permintaan pembelian. Salinan dari berbagai dokumen ini masuk ke prosedur manual dalam bagian pembelian dan utang usaha.

Bagian pembelian
Setelah menerima permintaan pembelian, bagian pembelian membuat pesanan pembelian yang terdiri atas lima bagian. Berbagai salinan itu dikirim ke pemasok, bagian utang usaha, bagian penerimaan, pemrosesan data, dan untuk file bagian pembelian sendiri. Tahapan otorisasi dan pemesanan dikonsolidasikan dan dilakukan oleh sistem komputer. Dokumen permintaan pembelian tidak ada gunanya dalam sistem ini dan tidak dibuat. Tetapi, catatan permintaan mungkin masih ada dalam cakram atau pita magnetis sebagai jejak audit.

Tahap 2
Bagian pemrosesan data
Pesanan pembelian digunakan untuk membuat catatan pesanan pembelian terbuka dan untuk mentrasfer catatan yang terkat dalam file permintaan pembelian ke file permintaan pembelian tertutup.

Bagian Penerimaan
Ketika barang diterima dari pemasok, staf administrasi beagian penerimaan membuat laporan penerimaan. Salinanannya akan dikirim ke bagian pembelian, utang usaha, dan pemrosesan data.

Tahap 3
Bagian pemrosesan data
Bagian pemrosesan data menjalankan pekerjaan secara batch yang akan memperbarui file buku besar pembantu persediaan berdasarkan laporan penerimaan dan menyingkirkan tanda “sedeang dipesan” dari catatan persediaan. Sistem akan menghitung total batch penerimaan persediaan untuk prosedur memperbarui buku besar dan kemudian menutup catatan yang terkait dalam file pesanan pembelian terbuka ke file pesanan pembelian tertutup.

Bagian utang usaha
Staf administrasi akan merekonsiliasi faktur dari pemasok dengan berbagai dokumen pendukung yang sebelumnya dimasukkan ke dalam file tunda utang usaha. Kemudian membuat voucher, menyimpannya dalam file voucher terbuka, dan mengirimkan salinan voucher ke bagian pemrosesan data.

Tahap 4
Program batch akan memvalidasi berbagai catatan voucher (atau ke file buku besar pembantu utang usaha), serta membuat total batch untuk dicatat ke akun pengendali utang usaha dalam buku besar.

Pemrosesan Penggajian
Pemrosesan gaji pada kenyataanya merupakan sistem pembelian kasus khusus. Cek gaji dapat diproses melalui sistem utang usaha dan pengeluaran kas reguler. Karena alasan kepraktisan, pendekatan ini memiliki sejumlah kekurangan, antara lain : 
  • Perusahaan dapat mendesain prosedur pengeluaran umum yang diterapkan untuk semua pemasok. Akan tetapi, prosedur penggajian sangat berbeda antar karyawan. Misalnya, prosedur yang berbeda digunkan untuk karyawan yang dibayar perjam, karyawan tetap, karyawan borongan, dan karyawan komisi. Selain itu proses penggajian memerlukan prosedur akuntansi khusus untuk pemotongan gaji dan pemotongan pajak. 
  • Penulisan cek kepada karyawan memerlukan pengendalian khusus. Penipuan pembayaran gaji lebih mudah ditutupi ketika cek gaji dikombinasikan dengan cek untuk kegiatan dagang. 
  • Prosedur pengeluaran umum didesain untuk memgakomondasi arus transaksi yang relatif lancar. Perusahaan bisnis secara konstan membeli persediaan dan mengeluarkan kas untuk para pemasok. Umumnya, perusahaan mendisain sistem untuk menghadapi kegiatan transaksi ditingkat normal. Kegiatan pengajian tidak bersifat berkelanjutan. 
Diagram Arus Data Untuk Penggajian

Diagram diatas merupakan diagram arus data yang menggambarkan tugas – tugas umum dari sistem penggajian dalam perusahaan manufaktur. Inti dari proses ini adalah sebagai berikut 
  • Otorisasi penggajian dan perincian transaksi dimasukkan ke proses pengajian dari dua sumber yang berbeda yaitu personalia dan produksi. 
  • Proses penggajian merekonsiliasi informasi ini, menghitung gaji, dan mendistribusikan cek pembayaran ke karyawan. 
  • Akuntansi biaya menerima informasi yang berkaitan dengan waktu yang digunakan untuk setiap pekerjaan dari produksi. 
  • Departemen utang usaha menerima informasi rangkuman penggajian dari departemen penggajian dan mengotorisasi departeman pengeluaran kas untuk menyetor satu cek, sejumlah total gaji, dalam akun bank khusus dimana gaji akan di ambil. 
  • Proses buku besar umum merekonsiliasi informasi rangkuman dari bagian akuntansi biaya, utang, dan pengeluaran kas. 

Sistem Penggajian Manual
Diagram Sistem Penggajian Manual

Tugas- tugas utama bagian prosedur diatas dalam konteks sistem manual yaitu : 

Personalia 
Departemen personalia menyiapkan dan menyerahkan kedepartemen penggajian berbagai formulir kegiatan personalia. Dokumen tersebut mengidentifikasi para karyawan yang di otarisasi untuk menerima cek pembayaran dan digunakan untuk menunjukkan perubahan dalam tingkat gaji perjam, pemotongan, dan klasifikasi pekerjaan.

Produksi 
Karyawan produksi menyiapakan dua jenis kartu catatan waktu kerja yaitu kartu kerja dan kartu waktu. Mereka memasukkan kartu tersebut pada saat makan siang dan pada akhir pada waktu jam kerja. Kartu ini merupakan catatan formal untuk kehadiran karyawan setiap hari. 

Akuntansi Biaya 
Departemen akuntasi biaya menggunakan kartu pekerjaan untuk mengalokasikan biaya tenaga kerja ke akun WIP sebagai tenaga kerja langsung atau overhead. Pembebanan ini dirangkum dalam rangkuman distribusi tenaga kerja dan diterusakan ke departemen buku besar umum. 

Penggajian 
Departemen penggajian menerima tarif pembayaran dan data pemotongan gaji dari departemen personalia dan data jam kerja dari departemen produksi. Staff administrasi di departemen ini melakukan pekerjaan sebagai berikut:
a. Menyiapakan daftar gaji yang menunjukkan pembayaran bruto, pemotongan, pembayaran lembur dan pembayaran bersih.
b. Memasukkan informasi di atas ke catatan pengajian karyawan.
c. Menyiapkan cek gaji untuk karyawan
d. Mengirim cek gaji kepengeluaran kas dan salinan daftar gaji ke utang
e. Menyimpan kartu waktu, formulir kegiatan personalia dan salinan daftar gaji. 

Departemen Utang 
Staf administarasi utang usaha memeriksa kebenaran daftar gaji dan menyiapan dua salinan tanda terima pengeluaran kas sejumlah gaji tersebut. Satu salinan, bersama dengan daftar gaji, dikirim kepengeluaran kas. Salinan lainnya dikirim kedepartemen buku besar umum. 

Pengeluaran Kas 
Menejer dibagian pengeluaran kas menerima cek – cek penggajian, memeriksannya dan kemudian menandatanganinnya lalu mengirimnya kepusat pembayaran untuk didistribusikan kepada para pegawai.

Pengendalian Penggajian 
Otorisasi Transaksi 
Dokumen ini penting untuk mencegah penipuan penggajian dengan mengidentifikasi karyawan yang diotorisasi. Bentuk penipuan yang umum dilakukan adalah menyerahkan kartu waktu karyawan yang tidak lagi bekerja diperusahaan. 

Pemisahan Tugas 
Departemen personalian menberikan informasi tarif pembayaran kebagian pembayaran untuk karyawan yang dibayar peram. Kisaran tarif pembayaran dapat didasarkan pada pengalama, klasifikasi pekerjaan, senioritas dan kelebihan lainnya. Jika informasi ini disediakan langsung oleh departemen produksi, karyawan dapat megubah informasi dan melakukan penipuan.

Supervisi 
Wilayah lain yang berresiko adalah penjagaan waktu kadang – kadang karyawan memasukkan kartu untuk karyawan lain yang terlmbat atau absen. Supervisor harus mengamati proses ini dan merekonsiliasikan kartu waktu dengan kehadiran aktual. 

Catatan Akuntansi 
Jejak audit untuk penggajian meliputi dokumen – dokumen berikut:
a. Kartu waktu, kartu pekerjaan, dan bukti kas keluar
b. Informasi jurnal, yang berasal dari rangkuman distribusi tenaga kerja dan daftar tenaga gaji.
c. Akun buku besar pembantu, yang berisi catatan karyawan dan berbagai akun pengeluaran. 
d. Akun buku besar umum berisi pengendalian penggajian, kas dan akun dana gaji. 

Pengendalian Akses 
Aktiva yang berkaitan dengan sistem penggajian adalah tenaga kerja dan kas. Keduanya dapat disalahgunakan melalui akses yang tidak benar kecatatan akuntansi. Individu yang tidak jujur dapat memalsukan jumlah tenaga kerja melalui kartu waktu sehingga dapat menggelapkan uang kas. 

Verifikasi Independen 
Berikut ini adalah contoh-contoh pengendalian verifikasi independen dalam sistem penggajian :
a. verifikasi jam kerja
b. pengurus pembayaran
c. utang usaha
d. buku besar umum

Sistem Penggajian Berbasis Komputer 
Otomatisasi Sistem Penggajian Menggunakan Pemrosesan Batch 
Karena sistem penggajian tidak sering dilakukan ( mingguan dan bulanan ), sistem ini sering kali tidak cocok dengan pemrosesan Batch dan file berurutan. Departemen pemrosesan data menerima formulir kegiatan personalia, kartu pekerjaan, kartu waktu, yang dikonversi ke file digital. Program komputer batch melakukan pencatatan dengan terperinci, penulisan cek dan fungsi buku besar umum. 

Merekayasa Ulang Sistem Penggajian 
Pemrosesan gai sering kali disatukan dalam sistem manajemen sumber daya manusia (MSDM) . Sistem MSDM menangkap dan memproses sejumlah besar data yang berkaitan dengan personalia, termasuk tunjangan karyawan, perencanaan tenaga kerja, realisasi tenaga kerja, keterampilan tenaga kerja, kegiatan personalia dan juga gaji. Sistem MSDM harus menyediakan akses real-time ke file personalia untuk tujuan mencari keterangan secara langsung dan untuk perubahan catatan dalam status karyawan pada saat terjadi. 

Sistem ini berbeda dari sistem otomatisasi sederhana dalam hal-hal berikut :
a. Departemen operasi mengirim transaksi ke pemrosesan data melalui terminal
b. File akses langsung digunakan untuk penyimpanan data
c. Banyak proses sekarang dilakukan secara real-time. 

Sistem Aktiva tetap
Aktiva tetap adalah properti, pabrik, dan peralaan yang digunakan dalam operasi bisnis. Item-item ini relative permanent dan seringkali secara kolektif mencerminkan investasi keuangan terbesar perusahaan. Contoh dari aktiva tetap adalah tanah, gedung, perabotan, mesin dan kendaraan bermotor. Tujuan spesifik dari aktiva tetap adalah : 
  • memproses akuisisi aktiva tetap ketika diperlukan dan sesuai dengan persetujuan dan prosedur manajemen formal. 
  • mempertahankan catatan akuntansi yang memadai dari akuisisi, biaya, deskripsi, dan lokasi fisik aktiva di dalam organisasi. 
  • mempertahankan catatan depresiasi yang akurat untuk aktiva-aktiva yang dapat disusutkan sesuai dengan metode-metode yang wajar. 
  • menyediakan informasi bagi pihak manajemen yang dapat membantu merencanakan investasi aktiva tetap dimasa yang akan dateng 
  • mencatat penghapusan aktiva tetap dengan benar. 
Logika Sistem Aktiva

Ø Akuisisi Aktiva
Akuisisi aktiva biasanya dimulai dari manajer departemen (pengguna) yang melihat kebutuhan untuk mendapatkan aktiva tetap yang baru. Prosedur otorisasi dan persetujuan yang terlibat dalam transaksi ini akan bergantung pada biaya aktiva tersebut. Setelah permintaan disetujui dan pemasok dipilih, departemen penerimaan mengirim aktiva tersebut ke pengguna/manajer yang bersangkutan

Ø Pemeliharaan Aktiva
Pemeliharaan aktiva melibatkan penyesuaian saldo akun buku besar pembantu aktiva ketika aktiva tersebut (tidak termasuk tanah) menyusut sepanjang waktu pemakaiannya. 

Ø Penghapusan Aktiva
Ketika aktiva mencapai titik akhir umur ekonominya atau ketika manajemen memutuskan untuk menghapusnya, aktiva tersebut harus dihapus dari buku besar pembantu aktiva tetap. Seperti transaksi lainnya, penghapusan aktiva memerlukan persetujuan menurut prosedur yang berlaku. Pilihan penghapusan aktiva adalah menjual, membongkar, menyumbangkan, atau menghentikan penggunaan aktiva tersebut. Laporan penghapusan aktiva yang menjelaskan disposisi akhir dari aktiva, dikirim ke departemen akuntansi aktiva tetap untuk mengotorisasi penghapusannya dari buku besar.

Mengendalikan Sistem Aktiva Tetap
1. Pengendalian Otorisasi
Setiap transaksi harus dimulai dengan permintaan tertulis dari pengguna atau departemen. Dalam hal barang-barang yang bernilai tinggi, harus ada proses persetujuan independen yang mengevaluasi keuntungan permintaan tersebut berdasarkan biaya dan manfaatnya.

2. Pengendalian Supervisi
Proses/aktivitas
Ancaman
Pprosedur pengendalian yang dapat diterapkan
Pesan barang
1.      Mencegah kehabisan dan/atau kelebihan persediaan


2.      Meminta barang yang tidak dibutuhkan


3.      Membeli dengan harga yang dinaikan



4.      Membeli barang berkualitas rendah



5.      Membeli dari pemasok yang tidak diotorisasi

6.      Komisi  (kickback)
Sistem pengendalian persediaan, catatan persedian perpetual, teknologi kode geratis, penghitungan persediaan secara periodik.

Catatan persedian perpetual  yang akurat, persetujuan permintaan pembelian.

Meminta penawaran kompetitif, gunakan pemasok yang disetujui , persetujuan pesanan pembelian, pengendalian anggaran

Gunakan vendor yang disetujui, persetujuan pesanan pembelian, awasi kinerja vendor, pengendalian anggaran

Persetujuan pesanan pembelian, batasi akses ke file utama pemasok

Kebijakan, mintalah pegawai bagian pembelianuntuk mengungkapkan kepentingan finansial  dengan pemasok, audit vendor
Terima dan simpan barang
7.      Menerima barang yang tidak dipesan


8.      Membuat kesalahan dalam penghitungan



9.      Mencuri persediaan
Minta bagian penerimaan menverivikasikan keberadaan pesanan pembelian yang valid

Gunakan teknologi kode geratis, dokumentasikan kerja pegawai, insentif untuk penghitungan yang akurat

Pengendalianakses fisik, penghitungan periodik persedian dan rekonsiliasi perhitungan fisik dengan catatan, dokumentasikan semua kiriman p[ersediaan
Setujui dan bayar vaktur dan vendor
10.  gagal menangkap kesalahandalam faktur dari vendor

11.  membayar barang yang tidak diterima



12.  gagal memanfaatkan diskon pembelian yang tersedia

13.  membayar faktur yang sama dua kali





14.  kesalahan mencatat  dan memasukan data dalam utang usaha

15.  menyalahgunakan, kas, cek, atau EFT
Periksa kembali akturasi faktur, pelatihan bagi pegawai bagian utang usaha, gunakan ERS

Hanya membayar faktur yang didukung oleh laporan penerimaan asli, gunakan ERS, pengendalian anggaran

Penyimpanan file yang tepat, anggaran arus kas


Hanya membayar faktur yang didukung oleh budel voucher asli, pembatalan bundel voucher saat pembayaran, gunakan ERS, kendalikan akses ke file utama pemasok

Pengendalian edit berbagai entri data dan pemrosesan


Batasi akses ke cek kosong, mesin penandatangan cek, dan terminal kiriman EFT, pemisahan tuga antara bagian utang usaha dan kasir, rekonsiliasi rekening bank oleh orang yang independen dari proses pengeluaran kas, alat perlindungan cek termasuk positive pay, tinjau ulang secara teratu untuk transaksi EFT
Pengwndalian umum
16.  kehilangan data



17.  kinerja kurang baik
Buat cadangan dan rencana pemulihan dari bencana, pengendal;ian akses fisik dan logis

Pembuatan dan peninjauan ulang secara periodik laporan kerja yang memadai